Sebab, jika tak berhasil melalui gonjang ganjing kondisi ekonomi ini, rasanya sulit bagi mereka untuk melewati tahun 2009 dengan 'selamat'. Mulai dari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) hingga ancaman gulung tikar bakal mendera perusahaan tersebut.
Di industri PC sendiri perjuangan agar bisa survive menghadapi tahun 2009 termasuk cukup berat. Banyaknya pemain di industri ini dan menyusutnya permintaan pasar menjadi dua tantangan terberat para vendor PC.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut data Apkomindo, tahun 2008 penjualan komputer di Indonesia mencapai 2,2 juta unit. Angka tersebut naik 22,2% ketimbang penjualan tahun sebelumnya yang mencapai 1,8 juta unit.
"Di tahun 2009 ini, komputer bisa terjual dua ratus ribu unit saja sudah bagus," keluh Ketua Umum Apkomindo, Suhanda Sujaya. Sehingga jika tak punya strategi bisnis yang ciamik, sulit rasanya bagi para vendor PC untuk mempertahankan eksistensinya.
Pun demikian, krisis ekonomi bukan juga berarti menutup semua peluang di industri PC. Jika cermat, nilai tukar dolar AS yang melambung justru bisa dimanfaatkan sebagai peluang tersembunyi, terutama bagi PC merek lokal untuk memikat konsumen.
Pejuang PC Lokal
Salah satu PC yang mengusung merek lokal dan patut diperhitungkan di kancah persaingan industri PC Tanah air adalah ION. ION merupakan merek produk yang dimiliki Metrodata yang tumbuh bersama dengan pengalaman selama lebih dari 32 tahun mendistribusikan produk-produk TI kelas dunia di Indonesia.
Sebagai PC dengan brand lokal, ION tentunya harus berjuang dengan keras untuk merebut hati para calon pelanggan di 'rumahnya' sendiri. Terlebih, di tengah ancaman deretan nama tenar dari vendor PC lain yang sudah mendunia.
Namun, nama besar tak selalu menjadi jaminan. Terbukti, menilik strategi 'cinta rupiah' ION, rasanya itu adalah strategi yang mujarab dalam memanfaatkan kondisi krisis ekonomi yang ikut meluluhlantahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Dengan strateginya itu, ION memberikan acuan harga ke chanel distributor dan end user-nya dengan rupiah. Hal ini tentunya sangat tepat mengingat fluktuasi rupiah terhadap dolar tak kunjung berhenti.
Hingga awal kuartal tiga 2008 lalu misalnya, 1 dolar masih dihargai sekitar Rp 9000, namun hari ini -- Kamis (19/2/2009) -- rupiah terjun bebas menembus angka Rp 12.000 per US$ 1 dolar.
Sales Director PT Metrodata e-Bisnis, Hendry Widaja mengatakan, strategi ini akan memberikan jaminan yang lebih baik terhadap pelanggan. "Karena kalau kita buka harga dalam US dolar, itu akan menjadi masalah bagi pelanggan karena selalu berfluktuasi," ujarnya ketika diwawancarai detikINET.
Alasan Hendry masuk akal. Sebab, dengan nilai tukar dolar yang kian membumbung tentunya akan membuat calon pelanggan untuk berpikir ulang ketika ingin membeli perangkat PC. Namun lain halnya, ketika sedari awal mereka tahu bahwa harga PC yang mereka incar dibanderol dengan rupiah. Tentunya tak akan ada kekhawatiran dari mereka bahwa harga PC itu akan naik seiring kenaikan dolar.
Ketua Umum Apkomindo, Suhanda Sujaya pun mengakui bahwa kondisi krisis ekonomi sekarang ini justru memberi peluang tersendiri bagi pemain lokal. "Krisis justru menjadi peluang bagi pemain lokal. Apalagi fitur yang diberikan tidak kalah dengan merek asing," tukasnya.
Merek Lokal Jaminan Internasional
Ya, harga murah tanpa diikuti kualitas yang mumpuni juga akan menjadi usaha percuma. Namun yang harus diingat adalah, meski menyandang PC merek lokal juga bukan berarti kualitas yang dihadirkan tak sebagus merek global.
ION pun telah membuktikannya dengan mendapat pengakuan internasional lewat sertifikasi ISO 9001 dan 14001. Pengakuan tersebut rasanya juga tidak akan diberikan sembarangan tanpa ada bukti-bukti konkret.
Selain dengan jaminan produk, ION juga telah mendapat dukungan infrastruktur memadai di 5 kota besar Indonesia, yakni di Medan, Jakarta, Bandung, Jogja dan Surabaya. Sementara 38 service outlet (SO) sebagai layanan purna jual yang ada saat ini rencananya akan ditambah menjadi 100 SO pada 2010.
Dengan modal seperti itu rasanya tak salah jika ION mengincar posisi nomor satu di panggung persaingan PC merek lokal di Indonesia. Target itu sendiri diharapkan bisa diraih di tahun 2010, sementara saat ini ION masih harus bersabar dengan bertengger di posisi nomor tiga.
Sebagai langkah menuju nomor satu itu, pada 2009 ini ION akan mengadakan tur di beberapa kampus di seluruh Indonesia untuk lebih memperkenalkan produk-produknya. Wilayah yang disasar termasuk Palembang, Bandung, Medan, Jakarta dan beberapa kota lainnya di Indonesia.
Hal itu selaras dengan pangsa pasar pengguna PC Tanah Air, yang selain menyasar kalangan pebisnis dan pemerintahan, juga mendapuk segmen pelajar sebagai pengguna PC dan target pasar paling prospektif.
Nah, kita tunggu saja perjuangan ION di tengah ancaman merek global dan krisis finansial yang mendera seluruh dunia saat ini untuk lebih meraksasa. (ash/fyk)