"Kalau saya diberi otoritas penuh, akan saya wajibkan seluruh pemain ICT (Teknologi Informasi dan Komunikasi-red) asing untuk membangun pabrik di sini sebagai investasinya," tegas Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar. Ia membuat andai-andai demikian ketika ditemui di sela acara ICT Expo 2008 di Kemayoran, Jakarta, Rabu (21/5/2008).
Pasalnya, dari anggaran Rp 70 triliun yang digelontorkan operator telekomunikasi setiap tahunnya, menurutnya, lokal cuma mendapat secuil. "Itu juga paling dari bisnis menara. Nah, di menara pun asing tetap ngotot ingin dapat porsi bisnis. Jadi, saya rasa tidak ada salahnya asing saya wajibkan membangun pabrik di sini. Toh, mereka dapat uang banyak setiap tahunnya dari hasil jualannya di Indonesia," keluhnya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya yakin mereka bisa. Anak-anak Indonesia pintar-pintar, cuma kurang pede (percaya diri) saja. Mental bangsa kita memang masih inlander, suka mencibir dengan hasil karya bangsa sendiri karena terlalu sering dicekoki barang asing. Lihat saja, apa yang bisa kita hasilkan dari 2G untuk lokal?" selorohnya.
Meski demikian, di satu sisi, Dirjen juga tengah senang dan berbangga hati. Pasalnya, industri ICT lokal yang tadinya dipandang sebelah mata, kini telah mampu menunjukkan kapabilitasnya.
"Nyatanya bisa. Setelah diproteksi dan didukung penuh selama dua tahun belakangan ini, perusahaan lokal akhirnya mampu memproduksi teknologi Wimax," katanya.
"Karena yakin lokal bisa berkarya, itu sebabnya pula kita tidak ragu-ragu mengucurkan dana Rp 18 miliar untuk biaya riset di Wimax," Basuki menandaskan.
Punya pengalaman bisnis di bidang TI? Ikut detikINET Forum yuk!
(rou/wsh)