Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ambisi AI Berujung PHK Massal di Canva

Ambisi AI Berujung PHK Massal di Canva


Fino Yurio Kristo - detikInet

Canva
Foto: Canva
Jakarta -

Raksasa desain AI, Canva, mengumumkan putaran PHK besar-besaran untuk pertama kali dalam 13 tahun sejarah berdirinya perusahaan. Sebagai bagian restrukturisasi, 1.271 karyawan (sekitar 22% total staf) akan kena PHK, dialihtugaskan ke peran baru, atau direlokasi ke kantor pusat di Sydney.

Kabar PHK ini diumumkan 3 November oleh salah satu pendiri sekaligus CEO Canva, Melanie Perkins. Perkins menjelaskan PHK ini bagian dari rencana yang lebih besar untuk membuat tim-tim di Canva jadi lebih tangkas dan tak bekerja sendiri-sendiri.

"Saya telah sampai kesimpulan sulit bahwa perubahan-perubahan kecil takkan cukup. Untuk mempersiapkan diri menghadapi dekade berikutnya, kita perlu membangun ulang Canva, kembali ke akar kita yaitu tim-tim kecil berdaya dengan kebebasan mengambil keputusan, punya rasa tanggung jawab dan fokus pada hal paling penting bagi komunitas kita," tulisnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Era AI memang membawa tantangan bagi perusahaan software desain. Bulan Mei, Anthropic meluncurkan Claude Design. Produk itu tampaknya mengejutkan perusahaan-perusahaan lama termasuk Adobe dan Figma, yang sebelumnya bekerja sama dengan Anthropic untuk mengintegrasikan Claude ke produk mereka.

ADVERTISEMENT

Mereka sama sekali tak menyangka raksasa AI tersebut akan merilis pesaing desainnya sendiri. Sementara itu, Canva mengatakan mereka sebenarnya membantu Anthropic mengembangkan Claude Design, meskipun Canva sendiri juga memiliki kesepakatan kolaborasi dengan perusahaan tersebut.

Bagi Adobe, Figma, dan Canva, bermitra dengan model AI tercanggih menawarkan keuntungan untuk membawa fitur baru lebih cepat serta mendapat manfaat dari kecanggihan model tersebut. Kelemahan utama adalah penggunaan model AI terdepan butuh daya komputasi luar biasa besar dan itu menumpuk biaya sangat tinggi.

Seiring upaya besar Canva membangun model AI sendiri dan mengakuisisi perusahaan-perusahaan AI untuk menjadi platform AI selama beberapa tahun terakhir, biaya-biaya tersebut menjadi masalah signifikan.

Awal Agustus, Canva mengirim catatan ke investor. Perusahaan menurunkan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahun 2026 dari 30% jadi 20%. Perkins mengatakan, biaya rata-rata melayani sebuah tugas AI terlalu tinggi karena perusahaan sangat bergantung pada kemitraan dengan model-model terdepan untuk memproses permintaan.

Sebagai gambaran, akhir tahun 2025, Canva memiliki lebih dari 265 juta pengguna aktif bulanan dan lebih dari 31 juta pengguna berbayar. Berarti, sebagian besar lalu lintas AI di situs kemungkinan besar dihasilkan pengguna gratis.

Dikutip detikINET dari Fast Company, Perkins mengatakan permintaan pengguna terhadap fitur-fitur AI baru telah jauh melampaui ekspektasi perusahaan, yang membawa sisi positif dan negatif.

Untuk mengurangi biaya perantara yang harus ditanggung Canva tiap kali tugas AI membutuhkan model terdepan, Canva berupaya mengembangkan fitur-fitur internal yang dapat mengambil alih sebagian pekerjaan tersebut.

Contohnya, Perkins menyebut bahwa sejak meluncurkan Canva 2.0 bulan April, biaya per tugas berkurang hingga 90%. Oktober ini, Canva meluncurkan produk lain bernama Canva Brush, yang diklaim mampu mengurangi biaya per tugas sebesar 46% dibanding agen desain sebelumnya.

Fitur-fitur baru ini memang memberi berbagai perbaikan, namun jika melihat penurunan proyeksi pendapatannya, Canva tampaknya masih harus berjuang sebelum mematangkan model ekonomiannya. Fakta bahwa permintaan pengguna akan perangkat AI Canva melampaui kemampuan perusahaan tampaknya jadi sinyal optimis.



(fyk/fyk)
TAGS




Hide Ads