Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
LG CNS Ungkap Cerita di Balik Coretax Rp 1,23 Triliun

LG CNS Ungkap Cerita di Balik Coretax Rp 1,23 Triliun


Adi Fida Rahman - detikInet

Ilustrasi Coretax
LG CNS Ungkap Cerita di Balik Coretax Rp 1,23 Triliun Foto: Najmi Dhiaulhaq
Jakarta -

LG CNS, perusahaan teknologi asal Korea Selatan, mengungkap cerita di balik pengembangan Core Tax Administration System (Coretax), sistem administrasi perpajakan Indonesia senilai Rp 1,23 triliun. Proyek ini menjadi salah satu tonggak kiprah LG CNS yang telah beroperasi selama 20 tahun di Tanah Air.

President Director PT LG CNS Indonesia, Mark Mansik Won, mengatakan perusahaannya telah hadir di Indonesia sejak 2006. Selama dua dekade, LG CNS terlibat dalam berbagai proyek transformasi digital, mulai dari sistem pemerintahan, transportasi, hingga infrastruktur teknologi.

Salah satu proyek terbesarnya adalah Coretax milik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan. Sistem yang mulai digunakan secara nasional pada Januari 2025 ini dikembangkan melalui konsorsium LG CNS dan Qualysoft, dengan LG CNS berperan sebagai integrator sistem utama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Dalam berbincang dengan detikINET, Mark mengakui pengembangan Coretax bukan pekerjaan mudah. Tantangan terbesarnya adalah mengintegrasikan berbagai sistem perpajakan yang sebelumnya berjalan secara terpisah menjadi satu platform.

Menurutnya, kompleksitas tersebut semakin tinggi karena Coretax merupakan sistem berskala nasional yang harus terus menyesuaikan diri dengan perubahan regulasi, proses bisnis, dan kebutuhan pengguna.

"Proses bisnis di Indonesia sangat kompleks. Mengintegrasikan semuanya menjadi satu sistem merupakan tantangan terbesar. Apalagi ini proyek jangka panjang, ketika regulasi dan kebutuhan pengguna terus berubah," jelas Mark.

Coretax Sempat Bermasalah, Tim Khusus Korea Dikerahkan

Coretax sempat menuai keluhan setelah resmi digunakan pada Januari 2025. Sejumlah wajib pajak mengalami kendala ketika mengakses dan menggunakan sistem administrasi perpajakan tersebut.

Mark mengakui adanya persoalan pada masa awal implementasi. Menurutnya, sistem teknologi informasi berskala besar umumnya membutuhkan proses stabilisasi setelah mulai digunakan secara luas.

Ia menjelaskan bahwa gangguan pada sistem baru dapat disebabkan berbagai faktor, mulai dari persoalan teknis sederhana hingga masalah yang lebih kompleks. Adaptasi pengguna terhadap sistem baru juga bisa menjadi tantangan.

Namun, Mark tidak merinci akar penyebab teknis dari seluruh gangguan yang dialami Coretax ketika pertama kali diluncurkan.

Untuk menangani persoalan tersebut, LG CNS berkoordinasi dengan DJP dan mendatangkan tim teknis khusus dari Korea Selatan.

"Ketika masalah muncul, kami segera mendatangkan tim khusus dari Korea. Tim tersebut bekerja sama dengan DJP untuk menganalisis penyebab masalah dan mencari solusinya," ungkap Mark.

Tim khusus tersebut bertugas mengidentifikasi gangguan, melakukan analisis teknis, dan membantu penyelesaian masalah agar Coretax dapat beroperasi lebih stabil.

Mark mengklaim berbagai kendala pada masa awal implementasi berhasil ditangani. Menurutnya, Coretax kini telah berjalan stabil dibandingkan saat pertama kali diluncurkan.

Meski demikian, LG CNS tidak menangani operasional dan pemeliharaan harian Coretax secara langsung. Perusahaan masih memberikan dukungan teknologi terkait infrastruktur dan database sesuai kontrak, sekaligus menjalankan proses transfer pengetahuan kepada tim Indonesia.

President Director PT LG CNS Indonesia, Mark Mansik WonPresident Director PT LG CNS Indonesia, Mark Mansik Won Foto: Adi FR/detikINET

Kemajuan Sistem Digital Indonesia

Mark juga menyoroti kemajuan teknologi pemerintahan Indonesia selama dua dekade terakhir. Menurutnya, kemampuan perusahaan teknologi lokal telah meningkat signifikan dibandingkan ketika LG CNS pertama kali hadir pada 2006.

Ia mengatakan Korea Selatan memang lebih dahulu mengembangkan sistem pemerintahan berbasis elektronik. Namun, Indonesia kini dinilai memiliki kemampuan membangun sistem digital berskala nasional yang semakin maju.

Coretax menjadi salah satu contoh kemajuan tersebut. Mark menilai sistem perpajakan Indonesia memiliki kemampuan integrasi dan kelengkapan fitur yang bahkan lebih maju dibandingkan sistem di sejumlah negara lain.

Ia mencontohkan Malaysia yang, menurut penilaiannya, masih tertinggal dari Indonesia dalam aspek integrasi dan fitur sistem perpajakan.

Kemajuan tersebut juga membuka peluang pengembangan Coretax menggunakan kecerdasan buatan (AI). Mark menilai ketersediaan data dalam Coretax dapat menjadi fondasi penerapan AI agent untuk mendukung layanan perpajakan di masa mendatang.

Namun, keputusan mengenai penerapan teknologi AI pada Coretax sepenuhnya berada di tangan DJP. LG CNS menyatakan siap memberikan dukungan teknologi apabila dibutuhkan.

Dari SPAN hingga LRT Jakarta

Selain Coretax, LG CNS memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan sistem digital pemerintah Indonesia.

Salah satunya adalah Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) milik Kementerian Keuangan. Sistem ini mengintegrasikan pengelolaan perbendaharaan dan anggaran negara serta dikembangkan melalui proyek yang didukung pembiayaan Bank Dunia.

Di sektor keamanan publik, LG CNS pernah terlibat dalam pengembangan Pusat Informasi Kriminal Nasional (PIKNAS) untuk Kepolisian Republik Indonesia.

Sementara di sektor transportasi, perusahaan menjadi mitra teknologi penyediaan platform screen door atau pintu pengaman peron di enam stasiun LRT Jakarta Fase 1A. LG CNS juga terlibat dalam proyek Bus Information Management System (BIMS) di Jakarta.

Pemprov DKI Jakarta akan menggratiskan transportasi umum pada tanggal 21 dan 24 April mendatang. Hal itu bertepatan dengan Hari Kartini dan Hari Transportasi Nasional.Ilustrasi LRT Jakarta Foto: Pradita Utama

Di luar proyek pemerintah, LG CNS mengembangkan bisnis di bidang perbankan, manufaktur, cloud, AI, dan infrastruktur data center.

Mark menegaskan kehadiran LG CNS di Indonesia bukan sekadar mengerjakan proyek teknologi, tetapi juga membangun kemampuan sumber daya manusia lokal melalui kolaborasi dan transfer pengetahuan.

Ia mencontohkan proyek SPAN yang kini dapat dioperasikan secara mandiri oleh tim Indonesia setelah proses transfer teknologi.

"Kami tidak menjalankan bisnis sendirian. Selama 20 tahun, kami selalu bekerja sama dengan mitra lokal dan melakukan transfer teknologi," jelasnya.

Ke depan, Mark berharap LG CNS dapat memperkuat perannya sebagai penghubung kerja sama teknologi antara Indonesia dan Korea Selatan, khususnya dalam pengembangan pemerintahan digital dan kecerdasan buatan.



(afr/afr)






Hide Ads