×
Ad

Kolom Telematika

Survei Terbaru Sharing Vision 2026: Nilai Maha Ekonomi Digital, Siapa Menikmatinya?

Dr Dimitri Mahayana - detikInet
Kamis, 03 Sep 2026 17:01 WIB
Dimitri Mahayana (Foto: (Dok Pribadi)
Jakarta -

Ada dua cara yang sama-sama kurang tepat dalam membaca perkembangan teknologi informasi Indonesia. Pertama, terlalu bergembira melihat jumlah pengguna digital sangat besar, lalu menyimpulkan Indonesia otomatis menjadi kekuatan ekonomi digital. Kedua, terlalu pesimistis karena sebagian teknologi, platform, dan aplikasi yang kita gunakan berasal dari luar negeri, lalu menganggap kita sudah kalah.

Keduanya perlu diluruskan. Besarnya konsumsi digital adalah potensi, bukan kemenangan. Sebaliknya, dominasi pemain global bukan alasan menyerah. Persoalan sebenarnya adalah bagaimana mengubah jutaan pengguna, miliaran transaksi, dan semakin panjangnya waktu masyarakat berada di ruang digital menjadi kapasitas ekonomi nasional.

Survei Sharing Vision IT Business Outlook per Juni 2026 memberi gambaran menarik. Sebanyak 76 persen responden menilai intensitas aktivitas online mereka tinggi atau sangat tinggi. Media sosial menjadi aktivitas terbesar dalam tiga bulan terakhir dengan 69 persen, disusul streaming video/film 43 persen, berbelanja 38 persen, layanan pesan antar makanan 28 persen, dan mengikuti kelas online 25 persen. Artinya, internet bukan lagi teknologi yang sesekali digunakan. Ia telah menjadi semacam infrastruktur kehidupan. Masyarakat bekerja, berkomunikasi, mencari hiburan, berbelanja, belajar, melakukan transaksi keuangan, bahkan meminta bantuan kecerdasan artifisial melalui medium digital.

Dari User Menuju Value Creator

Fenomena ini terlihat paling jelas pada artificial intelligence (AI). Survei kami menunjukkan 55,9 persen pengguna mengakses AI setiap hari atau hampir setiap hari. Pengguna yang sangat sering memakai AI meningkat dari 19,6 persen pada Juni 2025 menjadi 24 persen pada Juni 2026. Durasi pemakaian juga semakin panjang. Pengguna AI selama 2-4 jam meningkat dari 16 persen menjadi 21,4 persen dalam setahun. Mereka yang menggunakan AI lebih dari empat jam naik dari 6,1 persen menjadi 8,7 persen. Sebaliknya, penggunaan kurang dari satu jam turun dari 44,1 persen menjadi 37,4 persen.

Siapa pemimpin pasarnya? ChatGPT menjadi aplikasi AI paling dikenal, mencapai 95 persen responden, sedikit di atas Google Gemini 94 persen. Berikutnya Claude 79 persen, DeepSeek 78 persen, Siri 75 persen, Copilot dan Grammarly masing-masing 73 persen, serta Grok 68 persen.

Dari sisi penggunaan aktual, ChatGPT juga memimpin dengan 83 persen, disusul Google Gemini 77 persen, Claude 49 persen, DeepSeek 43 persen, Copilot 39 persen, Grammarly 33 persen, Siri 28 persen, dan Grok 21 persen. Dominasi nama-nama global tersebut menarik karena menunjukkan dua wajah perkembangan AI kita: masyarakat Indonesia sangat adaptif sebagai pengguna, tetapi platform yang menikmati skala pengguna tersebut sebagian besar berasal dari luar Indonesia.

Di sinilah pertanyaan yang lebih substansial muncul. Apakah tingginya penggunaan tersebut menjadikan Indonesia value creator atau kita baru menjadi value consumer?

Jangan sampai Indonesia menjadi negeri yang sangat cepat mengadopsi AI tetapi sebagian besar nilai ekonominya justru mengalir keluar. Kita menghasilkan pengguna, trafik, data, engagement, dan kebiasaan baru, tetapi belum tentu menghasilkan perusahaan teknologi skala sebanding.




(fay/fyk)

Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork