Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
Survei Terbaru Sharing Vision 2026: Nilai Maha Ekonomi Digital, Siapa Menikmatinya?
Kolom Telematika

Survei Terbaru Sharing Vision 2026: Nilai Maha Ekonomi Digital, Siapa Menikmatinya?


Dr Dimitri Mahayana - detikInet

Dimitri Mahayana, Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Bandung, sekaligus Dosen STEI ITB Kelompok Keahlian Kendali dan Komputer
Dimitri Mahayana (Foto: (Dok Pribadi)
Jakarta -

Ada dua cara yang sama-sama kurang tepat dalam membaca perkembangan teknologi informasi Indonesia. Pertama, terlalu bergembira melihat jumlah pengguna digital sangat besar, lalu menyimpulkan Indonesia otomatis menjadi kekuatan ekonomi digital. Kedua, terlalu pesimistis karena sebagian teknologi, platform, dan aplikasi yang kita gunakan berasal dari luar negeri, lalu menganggap kita sudah kalah.

Keduanya perlu diluruskan. Besarnya konsumsi digital adalah potensi, bukan kemenangan. Sebaliknya, dominasi pemain global bukan alasan menyerah. Persoalan sebenarnya adalah bagaimana mengubah jutaan pengguna, miliaran transaksi, dan semakin panjangnya waktu masyarakat berada di ruang digital menjadi kapasitas ekonomi nasional.

Survei Sharing Vision IT Business Outlook per Juni 2026 memberi gambaran menarik. Sebanyak 76 persen responden menilai intensitas aktivitas online mereka tinggi atau sangat tinggi. Media sosial menjadi aktivitas terbesar dalam tiga bulan terakhir dengan 69 persen, disusul streaming video/film 43 persen, berbelanja 38 persen, layanan pesan antar makanan 28 persen, dan mengikuti kelas online 25 persen. Artinya, internet bukan lagi teknologi yang sesekali digunakan. Ia telah menjadi semacam infrastruktur kehidupan. Masyarakat bekerja, berkomunikasi, mencari hiburan, berbelanja, belajar, melakukan transaksi keuangan, bahkan meminta bantuan kecerdasan artifisial melalui medium digital.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari User Menuju Value Creator

Fenomena ini terlihat paling jelas pada artificial intelligence (AI). Survei kami menunjukkan 55,9 persen pengguna mengakses AI setiap hari atau hampir setiap hari. Pengguna yang sangat sering memakai AI meningkat dari 19,6 persen pada Juni 2025 menjadi 24 persen pada Juni 2026. Durasi pemakaian juga semakin panjang. Pengguna AI selama 2-4 jam meningkat dari 16 persen menjadi 21,4 persen dalam setahun. Mereka yang menggunakan AI lebih dari empat jam naik dari 6,1 persen menjadi 8,7 persen. Sebaliknya, penggunaan kurang dari satu jam turun dari 44,1 persen menjadi 37,4 persen.

Siapa pemimpin pasarnya? ChatGPT menjadi aplikasi AI paling dikenal, mencapai 95 persen responden, sedikit di atas Google Gemini 94 persen. Berikutnya Claude 79 persen, DeepSeek 78 persen, Siri 75 persen, Copilot dan Grammarly masing-masing 73 persen, serta Grok 68 persen.

ADVERTISEMENT

Dari sisi penggunaan aktual, ChatGPT juga memimpin dengan 83 persen, disusul Google Gemini 77 persen, Claude 49 persen, DeepSeek 43 persen, Copilot 39 persen, Grammarly 33 persen, Siri 28 persen, dan Grok 21 persen. Dominasi nama-nama global tersebut menarik karena menunjukkan dua wajah perkembangan AI kita: masyarakat Indonesia sangat adaptif sebagai pengguna, tetapi platform yang menikmati skala pengguna tersebut sebagian besar berasal dari luar Indonesia.

Di sinilah pertanyaan yang lebih substansial muncul. Apakah tingginya penggunaan tersebut menjadikan Indonesia value creator atau kita baru menjadi value consumer?

Jangan sampai Indonesia menjadi negeri yang sangat cepat mengadopsi AI tetapi sebagian besar nilai ekonominya justru mengalir keluar. Kita menghasilkan pengguna, trafik, data, engagement, dan kebiasaan baru, tetapi belum tentu menghasilkan perusahaan teknologi skala sebanding.

Kita Punya Modal

Namun kondisi tersebut jangan pula dibaca pesimistis. Jumlah pengguna adalah modal ekonomi yang luar biasa, terutama jika melihat keberhasilan ekosistem pembayaran digital Indonesia.

Sebanyak 77 persen responden menggunakan mobile banking sebagai layanan bank yang paling aktif digunakan. Jauh di bawahnya terdapat internet banking 11 persen, ATM 6 persen, SMS banking 3 persen, kartu kredit 2 persen, dan datang langsung ke kantor cabang hanya 1 persen. Data ini menunjukkan, kanal utama hubungan masyarakat dengan perbankan telah berpindah ke layar telepon genggam.

Perkembangan bank digital juga menarik. Sebanyak 51 persen responden pernah membuka rekening bank digital, melonjak dibandingkan 25 persen pada 2021. Dalam persaingan ini, SEA Bank by Shopee memimpin dengan 43,7 persen, disusul Jago by Bank Jago 30,6 persen, Blu by Bank BCA 25,9 persen, Jenius by Bank BTPN 16,6 persen, dan Neo by Bank Neo Commerce 9,4 persen. Berikutnya terdapat Digibank by DBS 8,4 persen, TMRW by UOB 6,9 persen, Wokee by Bank Bukopin 5 persen, serta Bank Raya 3,9 persen.

Lebih masif lagi e-money. Sebanyak 96 persen responden telah menggunakan e-money. Dalam pasar ini, GoPay masih menjadi market leader dengan 69 persen, kemudian ShopeePay 49 persen, OVO 43,1 persen, DANA 31,5 persen, eMoney Mandiri 31,2 persen, Flazz BCA 20,2 persen, LinkAja 10,7 persen, dan Brizzi 9,3 persen.

Namun angka tersebut juga memperlihatkan, kepemimpinan pasar digital tidak pernah permanen. GoPay, misalnya, masih memimpin tetapi turun dari 78,7 persen pada Juni 2025 menjadi 69 persen pada Juni 2026. ShopeePay juga turun dari 56,2 persen menjadi 49 persen. Sebaliknya, beberapa pemain lain menunjukkan kemampuan menjaga atau merebut kembali pengguna. Ini karakter penting bisnis digital: besar hari ini tidak otomatis dominan esok hari.

QRIS memberi gambaran lebih kuat lagi mengenai perubahan perilaku konsumen. Pada 2023, QRIS baru menjadi metode pembayaran yang paling sering digunakan oleh 58 persen responden. Angkanya meningkat menjadi 71 persen pada 2024, 78 persen pada Juni 2025, 79 persen pada Desember 2025, dan berada pada 73 persen pada Juni 2026.

Pada saat bersamaan, penggunaan uang tunai sebagai metode pembayaran utama turun dari 16 persen pada 2023 menjadi hanya 8 persen pada Juni 2026. Kartu debit juga turun dari 15 persen menjadi 8 persen. Transformasinya sangat jelas yakni QRIS bukan hanya menggeser uang tunai, tetapi mulai mengambil ruang metode pembayaran konvensional lainnya.

Jangan Mabuk Angka

Semua angka itu menggembirakan, tetapi kita tidak boleh mabuk statistik adopsi. Digitalisasi bukan hanya menghasilkan efisiensi dan produktivitas. Ia membawa risiko baru. Sharing Vision memperkirakan lebih dari 7 juta jiwa Generasi X, Y, dan Z mengalami kecanduan internet pada kategori severe atau tingkat berat. Proporsi kategori moderate bahkan meningkat dari 22,2 persen pada Juni 2025 menjadi 30,1 persen pada Juni 2026.

AI juga membawa problem kepercayaan. Sebanyak 57 persen pengguna yang pernah mengalami masalah ketika menggunakan GenAI memperoleh informasi sangat meyakinkan tetapi ternyata tidak sesuai fakta. Sebanyak 52 persen memperoleh hasil yang tidak relevan, sedangkan 51 persen menerima jawaban yang tidak konsisten.

Menariknya, problem berikutnya justru memperlihatkan peningkatan persoalan etis. Sebanyak 27 persen menemukan hasil AI yang menunjukkan bias, meningkat dari 18 persen setahun sebelumnya. Sementara konten yang dinilai tidak pantas atau menyinggung melonjak dari 4 persen menjadi 11,8 persen.

Persoalan digital trust juga terlihat pada data pribadi. Kasus responden yang pernah mengalami data pribadinya digunakan orang lain untuk melakukan penipuan meningkat dari 8,7 persen pada 2023 menjadi 12 persen pada Juni 2026. Artinya, cybersecurity, perlindungan data, fraud detection, responsible AI, identitas digital dan tata kelola data tidak semestinya hanya dipandang sebagai biaya kepatuhan. Semua itu adalah pasar dan industri masa depan.

Menangkap Nilai Ekonomi

Di sinilah kita harus membaca tren bisnis IT secara jernih. Jangan euforia hanya karena jumlah pengguna besar, tetapi jangan pula minder karena pemain global masih mendominasi beberapa lapisan teknologi. Indonesia mempunyai sesuatu yang sangat mahal: market, users, transactions, data, dan digital habit. Bahkan pada pembayaran, kita mempunyai QRIS sebagai infrastruktur yang lahir dan berkembang dari ekosistem Indonesia.

Kita perlu mengubah cara melihat besarnya pasar digital Indonesia. Persoalannya hari ini bukan lagi sekadar apakah kita mampu menjadi player global. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah seberapa besar nilai ekonomi dari aktivitas digital masyarakat Indonesia yang masih dapat kita tangkap dan nikmati di dalam negeri.

Ketika masyarakat membayar layanan, menggunakan AI, bertransaksi, menghasilkan data, dan menghabiskan semakin banyak waktu di ruang digital, harus ada bagian nilai tambah yang kembali kepada ekonomi Indonesia. Karena itu, ukuran keberhasilan transformasi digital tidak cukup dihitung dari berapa jam masyarakat berada di internet, berapa aplikasi AI digunakan, berapa akun bank digital dibuka, atau berapa transaksi dilakukan melalui QRIS.

Kita perlu menghitung lebih jauh: berapa rupiah yang menjadi pendapatan perusahaan Indonesia, berapa lapangan kerja yang tercipta, berapa talenta lokal yang terserap, berapa investasi yang berputar kembali di dalam negeri, serta berapa besar data dan infrastruktur strategis yang tetap memberikan manfaat bagi kepentingan nasional.

Kita mungkin tidak dapat menghindari kenyataan bahwa banyak market leader digital berasal dari luar negeri. Namun, pasar Indonesia yang sangat besar tidak boleh hanya menghasilkan trafik, data, dan pendapatan bagi pihak lain. Tantangan kita sekarang adalah memastikan sebanyak mungkin nilai ekonomi dari setiap klik, transaksi, langganan, penggunaan AI, dan aktivitas digital masyarakat tetap berputar dan memberi manfaat di Indonesia.

Di situlah kejernihan kita seharusnya dalam membaca tren bisnis IT: bukan euforia karena penggunanya besar, bukan pula pesimistis karena pemainnya banyak berasal dari luar, melainkan memastikan Indonesia memperoleh manfaat ekonomi yang proporsional dari besarnya pasar digitalnya sendiri.

*) Dr Dimitri Mahayana adalah Dosen Sekolah Teknik Elektro Informatika (STEI) ITB, dan juga Data Scientist Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Bandung.

(fay/fyk)






Hide Ads