×
Ad

RI Masuk 5 Besar Pengguna ChatGPT Codex Dunia, Tapi Masih Ada 'Jurang' AI

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Kamis, 03 Sep 2026 16:00 WIB
Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy, Southeast Asia di OpenAI. Foto: detikINET/Anggoro Suryo Jati
Jakarta -

Laporan white paper terbaru bertajuk Closing the AI Capability Gap in Indonesia yang dirilis Southeast Asia Public Policy Institute (SEAPPI) bersama OpenAI mengungkap bahwa Indonesia menembus peringkat lima besar dunia dalam penggunaan ChatGPT untuk Codex (pemrograman) dan analisis data.

Pencapaian ini membuktikan bahwa talenta digital di Tanah Air tidak sekadar menggunakan AI untuk kebutuhan kasual, melainkan sudah memanfaatkannya untuk pekerjaan teknis, komputasi, dan analisis bernilai tinggi.

Fenomena 'Power User' dan Jurang Kapabilitas

Kendati mencatatkan angka adopsi yang mengagumkan, data internal OpenAI dalam laporan tersebut membeberkan adanya ketimpangan tajam (AI capability gap) di tingkat pengguna individu. Pemanfaatan AI untuk pekerjaan bernilai tinggi ternyata masih sangat terkonsentrasi pada kelompok kecil yang tergolong power user.

  • Dominasi Token Penalaran: Pengguna di persentil ke-95 di Indonesia mengonsumsi reasoning tokens (token penalaran) lebih dari 11 kali lipat dibandingkan pengguna rata-rata (median).
  • Kompleksitas Tugas: Perbedaan konsumsi token yang signifikan ini mengindikasikan bahwa mayoritas masyarakat masih memanfaatkan AI untuk tugas-tugas mendasar, sementara kelompok kecil power user sudah memaksimalkannya untuk pemecahan masalah yang rumit.

"Indonesia sudah memiliki fondasi yang kuat dalam adopsi AI. Tahap berikutnya adalah membantu lebih banyak orang dan organisasi memanfaatkan AI untuk pekerjaan yang lebih kompleks," ujar Executive Director SEAPPI sekaligus penulis utama white paper, Ed Ratcliffe.

Mendorong Akses Inklusif

Head of Policy Southeast Asia OpenAI, Sandy Kunvatanagarn, menambahkan bahwa tantangan sekaligus peluang terbesar Indonesia saat ini adalah membawa keterampilan praktis pemanfaatan AI tingkat lanjut ini agar dapat diakses oleh masyarakat yang lebih luas.

"Data kami menunjukkan bahwa pengguna di Indonesia sudah memanfaatkan AI untuk pekerjaan tingkat lanjut, termasuk pemrograman dan analisis data. Namun, penggunaan tingkat lanjut ini masih terkonsentrasi pada kelompok yang relatif kecil," jelasnya dalam acara diskusi panel yang digelar di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Melalui penyediaan pelatihan keterampilan praktis dan akses terhadap perangkat AI yang terstandar, kapasitas kecerdasan kolektif talenta digital Indonesia diharapkan dapat merata dan tidak hanya didominasi oleh kelompok tertentu.

"Peluang berikutnya adalah membuat kemampuan tersebut dapat diakses oleh lebih banyak orang dan organisasi. Para pemimpin bisnis dapat berperan dengan memberikan tim mereka akses terhadap perangkat AI perusahaan yang telah disetujui, berinvestasi pada keterampilan praktis, serta menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan AI diterapkan dalam berbagai proses kerja sehari-hari," tutup Sandy.



Simak Video "Video: Hati-hati! Hacker Bisa Ambil Data Kamu Lewat Browser AI!"

(asj/asj)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork