Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Microsoft Gerilya Kampus, Pupuk Inovasi Piranti Lunak

Microsoft Gerilya Kampus, Pupuk Inovasi Piranti Lunak


- detikInet

Jakarta - Inovasi lahir bukan dari fasilitas tapi dari manusia yang berpikir. Itu mengapa perusahaan seperti Microsoft tidak lahir dari sebuah gedung berfasilitas lengkap tetapi dari dua manusia yang memiliki visi.

Prinsip yang sama berlaku pada Microsoft Innovation Center (MIC) yang didirikan Microsoft Indonesia di empat kampus. "Yang menggerakkan adalah orang-orang di MIC tersebut, bukan perangkatnya. Tanpa orang-orang itu, MIC itu hanya ruangan, seperti laboratorium biasa," papar Risman Adnan, ISV Lead, Developer and Platform Evangelism Group, Microsoft Indonesia.

MIC Microsoft saat ini telah didirikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dan Universitas Indonesia (UI) Depok. Masing-masing MIC, tutur Risman, tumbuh secara organik dengan keunggulan masing-masing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Zeddy Iskandar, Academic Developer Evangelist, Developer and Platform Evangelism Group, Microsoft Indonesia, mengatakan ke depannya MIC juga akan didirikan di Universitas Udayana, Bali, serta di sebuah universitas di Sumatera.

Produk di Jogja, Pondasi di ITB

Setiap MIC memiliki sosok pemimpin yang dikenal dengan istilah MIC Lead. Bersama anggotanya, para MIC Lead inilah yang kemudian akan menentukan fokus MIC di setiap kampus.

Namun secara umum, semua MIC memiliki kegiatan rutin berupa pelatihan teknologi pengembangan piranti lunak terkini dari Microsoft. Selain itu juga kursus manajemen bisnis dan marketing.

"Jadi yang kami lakukan di MIC itu ada tiga hal. Istilahnya Si Sapi, singkatan dari Self Improvement, Skill Accelerator dan Product Innovation," ujar Ridi Ferdiana, MIC Lead di UGM.

UGM, papar Ridi, memiliki fokus lebih besar pada Product Innovation. Menurut Ridi ini dimulai dengan melakukan eksplorasi teknologi terbaru yang dilanjutkan dengan mencoba melihat kemampuan teknologi itu dalam memecahkan suatu masalah bisnis. Kemudian, ujar Ridi, tim MIC UGM akan mengembangkan prototipe atau quick mocks aplikasi yang memanfaatkan teknologi tersebut.

Risman mengatakan, selain pengembangan aplikasi, MIC UGM saat ini juga memberikan online support bagi konsumen Microsoft. MIC UGM juga disebutnya kerap mengerjakan proyek penerjemahan dokumentasi teknis.

Lain di Yogyakarta, lain lagi di Bandung. MIC di ITB, ujar Risman, lebih fokus pada pengembangan pondasi teknologi. Risman mencontohkan hal-hal seperti pengembangan algoritma untuk mesin cari sebagai fokus yang kerap digarap MIC ITB.

Pengembangan dari sisi teknis fundamental ini dirasa lebih cocok dengan karakteristik mahasiswa ITB. Selain itu, MIC ITB secara tidak resmi menjadi pusat untuk pengembangan calon peserta kompetisi piranti lunak internasional Imagine Cup di Indonesia. "Tahun 2008 kami usahakan software Imagine Cup dari ITB lahir di MIC," tutur Ronald, MIC Lead di ITB.

Mak Comblang

Kegiatan lain dari MIC adalah menghubungkan para anggotanya dengan industri piranti lunak di Indonesia. Salah satunya dilakukan dengan membuat semacam forum antara akademisi dengan industriawan sehingga pihak industri bisa memberikan masukan mengenai kurikulum seperti apa yang cocok agar menghasilkan calon tenaga kerja yang siap menghadapi lingkungan bisnis.

Bentuk lain dari kerjasama dengan bisnis adalah program Student to Business (S2B). Program ini merupakan rekrutmen langsung dari Independent Software Vendor (ISV) lokal ke MIC. "Kami ibaratnya mak comblang antara mahasiswa di MIC dengan ISV yang membutuhkan tenaga kerja," ujar Zeddy.

Zeddy mengungkapkan, program S2B pertama kali dilakukan di MIC UI pada Juli 2007. Ketika itu, ujar Zeddy, PT Kontinum Era Artha melakukan rekrutmen langsung melalui MIC UI dan hasilnya, tujuh mahasiswa direkrut sebagai pekerja full time di Kontinum.

Kegiatan itu, lanjut Zeddy, telah diulangi di UGM dengan peserta PT Infoflow Solutions, PT Qpro Sukses Mandiri, dan Kontinum. Hasilnya sebanyak 11 mahasiswa lolos rekrutmen. Sedangkan di ITB, program S2B dengan peserta Concept.net dan Kontinum juga telah dilakukan. Hasilnya, ujar Zeddy, ada sekitar tiga mahasiswa yang direkrut.

Meski setiap MIC bertempat di kampus tertentu, anggota MIC tersebut menurut Zeddy bisa berasal dari kampus-kampus lain di sekitarnya. Di masa depan, Zeddy mengatakan, MIC diharapkan akan berkembang menjadi pusat-pusat pengembangan teknologi piranti lunak di Indonesia.

"Kami berharap, suatu saat MIC bisa self sustaining. Sehingga setiap MIC ke depannya bisa memiliki tiga bagian, satu untuk komersial/bisnis, satu untuk pelatihan, dan satu lagi untuk research and development," paparnya.

Dengan adanya fokus yang berbeda-beda di tiap MIC, namun diiringi semangat pengembangan yang serupa, tak sulit untuk membayangkan bahwa suatu saat seluruh MIC bisa memadukan kekuatan untuk menghasilkan produk inovasi piranti lunak yang istimewa.

Namun, satu-satunya yang bisa mewujudkan hal itu hanyalah orang-orang yang terlibat di dalamnya. Merekalah yang bisa menggerakan MIC itu sehingga menjadi melting pot dalam mewujudkan knowledge based society dan juga embrio untuk mengembangkan local software economy. (wsh/wsh)





Hide Ads