Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ganti CEO, Ini Satu Masalah Besar yang Hantui Apple

Ganti CEO, Ini Satu Masalah Besar yang Hantui Apple


Fino Yurio Kristo - detikInet

Apple Inc CEO Tim Cook discusses the iPhone 7 during an Apple media event in San Francisco, California, U.S. September 7, 2016. Reuters/Beck Diefenbach
Tim Cook. Foto: Reuters
Jakarta -

Bagi siapa pun yang mencermati Apple, pergantian CEO yang terjadi bukanlah sebuah kejutan. Tim Cook mendekati usia pensiun, yakni 65 tahun. Ia memimpin Apple selama 15 tahun sejak salah satu pendiri, Steve Jobs, mundur karena masalah kesehatan, dan ia sukses besar melesatkan Apple.

Media juga melaporkan rencana transisi jabatan ini mungkin sudah dipersiapkan berbulan-bulan. CEO baru Apple yang akan menjabat mulai 1 September, John Ternus, telah mengambil peran lebih besar dalam beberapa tahun terakhir. Ia sering tampil pada peluncuran produk baru. Paling menonjol, Ternus dan bukan Cook, yang meluncurkan MacBook Neo bulan lalu.

"Jumlah waktu yang didapatkan para eksekutif di depan audiens untuk acara-acara peluncuran produk ini berbanding lurus dengan posisi mereka dalam hierarki. Dan Anda tahu, Ternus tampil semakin sering selama lima tahun terakhir."," ujar John Gruber, penulis blog Daring Fireball yang membahas segala hal tentang Apple.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ternus menghabiskan 25 tahun terakhir di Apple dengan mengawasi sejumlah perubahan penting bagi perusahaan. Namun, masih ada pertanyaan mengenai bagaimana ia akan memimpin, terutama saat Apple menghadapi tantangan besar terkait kecerdasan buatan (AI).

Tim Cook benar-benar sangat sukses di Apple. Menjelang akhir masa jabatannya sebagai CEO, warisan terbesarnya adalah penciptaan nilainya yang luar biasa. Kapitalisasi pasar Apple melonjak dari sekitar USD 350 miliar menjadi USD 4 triliun di bawah kepemimpinannya, meskipun produk perusahaan lebih bersifat evolusioner. Namun satu kelemahan membayangi eranya, yaitu AI.

ADVERTISEMENT

Meskipun hadir lebih awal dengan asisten suara Siri, Apple sejak itu tertinggal dalam perlombaan AI dan hal ini merupakan rintangan besar yang disepakati para pakar teknologi harus diatasi oleh Ternus. "Dua tahun terakhir bukanlah masa yang baik bagi Apple di ranah AI," kata Gruber.

Meski Apple meluncurkan Apple Intelligence tahun 2024, fitur-fiturnya awalnya tak tersedia di ratusan juta iPhone dan teknologinya belum diadopsi luas. Apple juga meleset dari target merilis Siri versi bertenaga AI tahun 2025 dan mengatakan pembaruan akan hadir suatu waktu di tahun ini. Itu sesuatu yang tidak biasa bagi Apple yang biasanya selalu menepati janjinya.

Namun menurut Chris Deaver, pendiri firma konsultan kepemimpinan BraveCore dan mantan mitra bisnis Apple yang pernah bekerja dengan Ternus, mengatakan sudah lumrah bagi Apple untuk tidak menjadi penggerak pertama.

"Mereka tidak pernah tertarik untuk menjadi yang pertama. Mereka selalu tertarik untuk menjadi yang terbaik," katanya. Ia memperkirakan Apple kemungkinan besar menggunakan pendekatan yang sama terhadap AI.

Meski demikian, dengan latar belakang Ternus di bidang hardware dan bukan software, beberapa pihak mempertanyakan apakah ia orang yang tepat untuk memimpin Apple di era AI. Namun, Gruber menilai kritik semacam itu mungkin berpandangan sempit.

Menurutnya, langkah Apple menjadikan Ternus sebagai CEO memberikan isyarat bahwa perusahaan akan tetap fokus pada hardware saat melangkah maju. Mengukuhkan dirinya sebagai pembuat hardware yang menjalankan software AI dari perusahaan lain bisa jadi merupakan strategi AI Apple.

"Sebesar apa pun peran AI dalam kehidupan sehari-hari setiap orang nantinya, Anda akan tetap membutuhkan perangkat untuk berinteraksi dengannya. Dan siapa yang lebih baik dari Apple untuk membuat perangkat-perangkat tersebut?" pungkasnya.




(fyk/afr)





Hide Ads