Regulasi Bikin Pasar Printer Indonesia Tersendat
- detikInet
Jakarta -
Pasar printer di Indonesia ternyata tersendat dan stagnan, pertumbuhan yang dialami pun sangat kecil. Bahkan, jika dibandingkan dengan tahun 2006, justru terjadi penurunan.Hal itu terungkap dalam data lembaga analis IDC untuk kuartal kedua 2007. Hasil riset IDC menunjukkan bahwa angka shipment printer secara keseluruhan hanya tumbuh sebesar 2% saja dari kuartal sebelumnya. Menurut IDC, ini berarti penurunan sebesar 28% dari kuartal yang sama di tahun 2006."Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kondisi tersebut. Daya beli sektor konsumer tidak mengalami peningkatan, seperti halnya yang terjadi di Q1 2007. Selain itu, regulasi importasi printer berwarna yang diberlakukan sejak di akhir Q1 2007 sangat berpengaruh terhadap penurunan besarnya pasar printer," ujar Tony Hendrawan, analis IDC, dalam pernyataan yang dikutip detikINET, Jumat (12/10/2007).Regulasi tersebut, ujar Tony, pada prakteknya bukan hanya berpengaruh pada pasar printer warna tapi juga pada printer monokrom. Menurut Tony masalahnya adalah pada aplikasi yang masih relatif baru dan kurangnya sosialisasi dari regulasi tersebut.Meski secara keseluruhan ada penurunan, printer serial dot matrix (SDM) justru mengalami pertumbuhan. IDC mencatat pertumbuhan sebesar 25% dari kuartal sebelumnya dan 93% dari periode yang sama di tahun 2006.Pasar inkjet, menurut data IDC, hanya tumbuh sebesar 5% dari kuartal sebelumnya. Ini juga berarti mengalami penurunan sebesar 32% dari periode yang sama di 2006. Sejak kuartal pertama 2007, inkjet disebut selalu mengalami penurunan.Penurunan juga terjadi di segmen printer laser. Tercatat penurunan sebesar 36% dari kuartal 1 2007 dan 21% dari kuartal yang sama di tahun 2006.Tony pun memberi peringatan, jika terus terjadi penurunan ini akan berimbas pada naiknya harga printer. "Kemungkinan pada periode berikutnya, dampak dari penurunan angka shipment tersebut akan berpengaruh langsung pada ketersediaan barang di pasar yang pada akhirnya akan berimbas pada harga," Tony menandaskan.
(wsh/ash)