×
Ad

Gawat, 30% Fresh Graduate Diprediksi Nganggur Tergusur AI

Fino Yurio Kristo - detikInet
Rabu, 18 Mar 2026 07:16 WIB
Foto: dok. Freepik
Jakarta -

Adopsi kecerdasan buatan (AI) di perusahaan-perusahaan yang kian masif, dapat menyebabkan kesulitan mencari kerja yang signifikan bagi pekerja tingkat pemula (entry level) atau fresh graduate. Demikian dikatakan CEO perusahaan software ServiceNow, Bill McDermott.

McDermott mengatakan bahwa persentase pengangguran untuk lulusan perguruan tinggi baru bisa dengan mudah mencapai angka pertengahan 30-an persen dalam beberapa tahun ke depan.

"Banyak sekali pekerjaan yang akan diselesaikan oleh agen (AI). Jadi, akan menjadi tantangan bagi anak-anak muda untuk membedakan kemampuan mereka di lingkungan perusahaan," ujarnya, dikutip detikINET dari CNBC, Rabu (18/3/2026).

Bank Sentral AS cabang New York menempatkan tingkat pengangguran di Amerika Serikat untuk lulusan perguruan tinggi baru pada akhir tahun 2025 di angka sekitar 5,7%. Namun, tingkat setengah pengangguran yang mencapai 42,5% merupakan level tertinggi sejak tahun 2020.

Di berbagai industri, pelaku bisnis sedang memangkas biaya dan memotong jumlah pekerjaan dengan bantuan perangkat-perangkat AI baru. Bulan lalu, Block mengumumkan rencana memangkas hampir separuh pegawai seiring kemampuan AI mengotomatisasi lebih banyak pekerjaan. Perusahaan software Atlassian, yang sahamnya anjlok 54% tahun ini karena kekhawatiran disrupsi AI, menyebut akan mem-PHK sekitar 10% tenaga kerjanya demi mendukung investasi AI.

Para pakar mengatakan AI secara perlahan mulai menggerus banyak pekerjaan kerah putih termasuk peran pemrograman (coding) dan pemasaran, serta memungkinkan perusahaan untuk mengurangi perekrutan karyawan baru dan meningkatkan produktivitas dengan lebih sedikit pekerja.

CEO Palantir Alex Karp sebelumnya mengemukakan ingin melipatgandakan pendapatan hingga 10 kali lipat sembari mengurangi jumlah karyawan. CEO Amazon Andy Jassy juga mengutarakan perusahaannya akan merampingkan tenaga kerja korporat menggunakan perangkat AI.

McDermott sendiri menyatakan teknologi ServiceNow akan membantu dunia usaha memangkas biaya perekrutan. Ia menambahkan perusahaannya telah mengambil alih 90% fungsi pekerjaan yang sebelumnya bergantung pada manusia di sektor customer service.

Teknologi ini juga memungkinkan perusahaan mempertahankan jumlah karyawan tanpa perlu menambah pegawai baru sembari terus meningkatkan pendapatan. "Saya benar-benar berpikir era ini datang lebih cepat dari yang diantisipasi orang-orang," ujarnya.



Simak Video "Video: Angka Pengangguran di Jakarta Terus Turun, Kini Sentuh 6,05%"

(fyk/fay)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork