Infrastruktur daya dinilai menjadi salah satu hambatan utama dalam adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Riset terbaru Cisco menunjukkan banyak organisasi mempercepat implementasi AI, tetapi belum diimbangi kesiapan pasokan dan manajemen daya yang memadai.
Temuan itu disampaikan dalam ajang Cisco Connect Indonesia 2026 yang digelar hari ini. Melalui AI Readiness Index 2025, Cisco mencatat 40% organisasi di Indonesia berisiko kehilangan nilai bisnis akibat apa yang disebut sebagai AI infrastructure debt atau utang infrastruktur AI.
Cisco menyoroti bahwa lebih dari separuh organisasi di Indonesia memperkirakan beban kerja AI akan meningkat lebih dari 50% dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Namun, 43% organisasi mengakui masih kekurangan infrastruktur daya untuk mendukung lonjakan tersebut. Ketidaksiapan ini berpotensi memicu bottleneck operasional, kenaikan biaya, hingga gangguan layanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Managing Director Cisco Indonesia Cin Cin Go mengatakan keputusan infrastruktur yang diambil saat ini akan menentukan kemampuan organisasi dalam memanfaatkan AI ke depan. Menurutnya, keterbatasan daya menjadi faktor krusial yang sering kali luput dari perhatian saat perusahaan fokus mengejar adopsi teknologi AI.
"Melalui forum seperti Cisco Connect, kami membuka ruang bagi organisasi untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan memperoleh insight praktis tentang apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menjadi AI-ready serta bersama-sama membentuk masa depan AI Indonesia," kata bos Cisco Indonesia yang baru menjabat sejak Desember 2025 ini, dalam keterangan yang diterima detikINET.
Secara global, kesenjangan terlihat cukup lebar. Sebanyak 96% organisasi yang masuk kategori AI pacesetters telah membangun infrastruktur khusus untuk mengoptimalkan konsumsi daya. Di Indonesia, angka tersebut hanya mencapai 57% dari organisasi yang disurvei.
Masalah daya ini juga berkaitan erat dengan kesiapan pusat data dan jaringan. Cisco mencatat hanya 29% organisasi di Indonesia yang menilai infrastrukturnya sudah optimal untuk mendukung beban kerja AI, jauh di bawah pacesetters global yang mencapai 81%. Kondisi ini membuat performa aplikasi AI rentan terhambat meski kapasitas komputasi telah ditingkatkan.
AI Readiness Index juga memperingatkan bahwa keterbatasan daya dapat memperparah risiko lain, termasuk keamanan dan efisiensi operasional. Banyak organisasi mulai mengadopsi agen AI secara agresif, tetapi infrastruktur pendukungnya belum dirancang untuk skala dan konsumsi energi yang dibutuhkan.
Cisco menilai, tanpa perencanaan daya sejak awal, organisasi berisiko menumpuk utang infrastruktur yang sulit ditebus di kemudian hari. Di tengah percepatan adopsi AI oleh sektor enterprise dan publik, kesiapan daya kini menjadi faktor penentu apakah investasi AI dapat benar-benar menghasilkan nilai bisnis atau justru menjadi beban baru.
(asj/rns)

