Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Pasar Wi-Fi VoIP Meningkat, Konsumen Bingung

Pasar Wi-Fi VoIP Meningkat, Konsumen Bingung


- detikInet

Jakarta - Penelitian Juniper Research menghasilkan prediksi menggembirakan. Pasar perangkat Wi-Fi VoIP untuk kalangan perusahaan diprediksi mencapai US$ 15 miliar atau sekitar Rp 136,3 triliun (US$1 = Rp 9.088, sumber: detik.com) menjelang tahun 2012. Selain itu, permintaan perangkat Wi-Fi VoIP pada tahun ini diperkirakan mencapai US$ 2 miliar atau sekitar Rp 18,1 triliun.Cisco juga diprediksi masih memimpin pasar dengan kekuatan besar. Cisco saat ini sedang menguasai pasar serta sumber daya yang besar yang membuat vendor lain mengalami kesulitan dalam perebutan pangsa pasar.Vendor lain seperti Aruba Networks, Trapeze Networks, Proxim Wireless dan Meru Networks sedang menghadapi kompetisi yang sulit. Namun, beberapa vendor ini sedang tumbuh dalam laju yang bagus dan hampir saling menyamai dalam kesuksesan di bidang ini. Demikian dipaparkan Basharat Hamid Ashai, lewat laporan Juniper yang berjudul "Converged Wireless VoIP Handsets and Equipment, 2007-2012."Walaupun pasar Wi-Fi VoIP terlihat menjanjikan, di sisi lain teknologi VoIP yang menjanjikan tarif panggilan telepon menjadi murah ini belum terlalu disambut hangat oleh konsumen. Hal ini diungkap oleh Forrester Research yang juga melaporkan konsumen sedang menghadapi dilema atas sistem VoIP. Analis Forrestes, Zayera Khan menyatakan, konsumen dibuat bingung oleh fitur icon, tombol dan navigasi yang ada pada sistem VoIP.Lebih lanjut, dikutip detikINET dari majalah SDA Asia, Selasa (17/4/2007), penelitian Forrester yang terangkum dalam 'The VoIP Customer Experience: Work In Progress', menyatakan vendor VoIP seperti Skype, Yahoo, Google, Microsoft, dan ICQ ternyata belum juga mengembangkan layanan VoIP yang ramah konsumen."Fitur atau menu yang ada dalam sistem seperti icon, grafis, tombol dan navigasi tidak disimbolkan secara jelas, sehingga konsumen menjadi bingung. Misalnya, bingung membedakan apakah sebuah simbol telepon merepresentasikan suara atau panggilan video. Mainstream konsumen mengkhawatirkan soal kebijakan keamanan dan privasi karena mereka tidak diberi petunjuk pada halaman yang relevan," ungkap laporan tersebut.Sementara analis VoIP dari Forrester Amerika Utara, Susan Cohen beranggapan, "Kebanyakan konsumen hanya tak mau bercakap-cakap melalui komputer mereka. Harapan mereka sederhana, seperti penggunaan handset dalam sistem VoIP." (lni/dwn)







Hide Ads