Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Tunjuk Pimpinan di Indonesia, SAS Optimalkan Partner Lokal

Tunjuk Pimpinan di Indonesia, SAS Optimalkan Partner Lokal


- detikInet

Jakarta - SAS, perusahaan penyedia jasa software Business Intelligent (BI) hari ini, Selasa (3/4/2007), mendapuk Uday W. Mathkar sebagai managing director SAS di Indonesia. Dengan ini, Uday merupakan pimpinan SAS pertama yang bakal berkantor di Indonesia, padahal SAS sudah bermain di pasar Indonesia kurang lebih sejak 10 tahun lalu.Keputusan Uday sebagai pimpinan SAS di Indonesia menurut Bill Lee, managing director SAS untuk negara berkembang, adalah karena alasan kebutuhan pasar, sehingga diharapkan dapat merespon perkembangan serta mensupport implementasi dan aktifitas SAS di tanah air."Pada tahun-tahun sebelumnya kami merespon pasar dari luar Indonesia. Maka dari itu kami akhirnya memutuskan untuk memiliki managing director di Indonesia," jelas Lee, saat konferensi pers yang berlangsung di Hotel Four Season Jakarta, Selasa (3/4/2007).Optimalkan Partner LokalSementara itu, Uday W. Mathkar merasa optimis dengan perkembangan industri BI Indonesia. Bahkan, negara kita dianggap sebagai salah satu negara bidikan yang berpotensi dalam memperluas pangsa pasar SAS di Asia Pasifik. Pada tahun lalu pasar Indonesia memberikan kontribusi sekitar 2 sampai 3 persen terhadap pendapatan SAS di Asia pasifik. Dengan keberadaan perwakilan langsung di tanah air diharapkan pada 2008 kontribusi Indonesia dapat menjadi 6 sampai 8 persen.Untuk itu, lanjut Uday, SAS akan menggandeng beberapa partner lokal dengan harapan dapat lebih mengembangkan keberadaan SAS dan meningkatkan pelayanan. "Saat ini kami telah mengidentifikasi tiga partner lokal dan baru akan berjalan bulan depan," tukas Uday Sayangnya, Uday enggan membeberkan nama partner lokal SAS yang dimaksud. Alasannya, karena mereka juga terikat dengan vendor-vendor lain jadi lebih kepada alasan etika bisnis. Jangka waktu kerja sama dengan para partner lokal tersebut untuk awalnya akan berjalan selama dua tahun setelah itu baru dilakukan evaluasi. "Kami tidak menjalankannya dalam rentang waktu 6 bulan sampai setahun, kami ingin kerjasama ini seperti orang menikah," ujar Uday.Sedangkan sektor perbankan dan telekomunikasi masih dinilai sebagai wilayah yang paling menjanjikan dalam mengadopsi BI. Khusus untuk sektor telekomunikasi, SAS berani menjadikannya sebagai fokus utama perusahaannya dibanding dengan sektor lain."Industri telekomunikasi juga butuh solusi dalam mengelola pelanggan mereka, bukan hanya untuk mencari dan mengumpulkan profit. Di area itulah SAS akan bermain," Uday menandaskan. (ash/ash)







Hide Ads