Tak Mau Buta, Kadin Survei Pasar Software Indonesia
- detikInet
Jakarta -
Ketiadaan data dan informasi mengenai kebutuhan industri piranti lunak (software) di Indonesia mendorong asosiasi Kamar Dagang Indonesia (Kadin) untuk melakukan survei terhadap para pelaku pasar di industri ini.Seperti dijelaskan Agus Silaban, ketua komite TI (teknologi informasi) Kadin Indonesia, survei ini dilakukan untuk mendeskripsikan dengan jelas mengenai kebutuhan pemetaan industri software di tanah air."Saat ini yang diributkan selalu masalah software ilegal, sementara kalau ada orang yang mau beli produk legal agak susah mencarinya, karena dimana-mana selalu ketemu yang bajakan. Jadi kita mau bikin survei, software apa sih yang dibutuhkan sehingga industri bisa mengantisipasi," ujar Agus kepada detikINET, Jumat (16/3/2007).Lebih lanjut Agus memaparkan, survei ini rencananya akan dilakukan di 15 kota besar Indonesia seperti Jakarta, Medan, Balikpapan, Palembang serta kota-kota lainnya dengan jangka waktu 3 sampai 4 minggu. Sasaran survei lebih ditujukan bagi pengguna software yang berpotensi seperti mahasiswa, pengusaha, korporat bahkan sampai masyarakat luas.Proyek ini merupakan program bersama Kadin dengan Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DeTIKNas), Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki), Asosiasi pengusaha komputer Indonesia (Apkomindo) dan beberapa pihak yang terkait dengan industri software.Untuk mendapatkan hasil yang optimal, survei akan diserahkan kepada perusahaan riset yang sudah berpengalaman seperti Fortune, AC Nielsen atau yang lainnya, rencananya perusahaan tersebut dijadwalkan untuk mengikuti tender yang akan dilakukan minggu depan.Harapannya, survei ini nantinya dapat menghasilkan data-data yang bisa dijadikan suatu informasi guna menentukan langkah strategis bagi pelaku industri software, karena selama ini mereka buta alias tidak mengetahui kondisi pasar. "Kalau untuk statistik software itu paling susah dan belum pernah ada, mungkin ini menjadi yang pertama kali," tukas Agus Batasan penelitian menurut Agus, akan difokuskan terhadap 5 poin penting yaitu kemampuan beli masyarakat, kisaran harga jual, volume penjualan, penyebaran penjualan serta jaringan distribusi.Sementara itu pada kesempatan lain, praktisi TI yang juga anggota DeTIKNas Jos Luhukay mengatakan, dana yang dibutuhkan untuk melaksanakan program ini diperkirakan akan mencapai Rp 400 juta yang diharapkan bisa didapat dari para sponsor."Survei ini dilakukan bukan untuk bisnis tetapi untuk consumer karena kita ingin melihat pasar," Jos menandaskan.
(ash/wsh)