Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
'Pasar Software Indonesia Tak Dianggap'

'Pasar Software Indonesia Tak Dianggap'


- detikInet

Jakarta - Pola perniagaan perangkat lunak di Indonesia dirasakan praktisi TI (teknologi informasi), Jos Luhukay, nyaris tidak ada. Akibatnya, untuk melakukan transaksi retail perorangan terhadap software berlisensi menjadi sulit. Hal tersebut diungkapkan Jos saat acara gathering Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki) yang berlangsung di gedung Joseph Wibowo Center, Universitas Bina Nusantara Jakarta, Kamis (15/3/2007).Padahal, menurut Jos, pola konsumsi piranti lunak pasar korporasi di Indonesia semakin menciut. Jos mencontohkan, sekitar 200 perusahaan besar di tanah air ternyata lebih memilih aplikasi yang dibeli di luar negeri. Artinya, Jos menyimpulkan, industri sudah harus bersiap untuk memasuki pasar retail.Kesulitan untuk membeli software berlisensi di retail juga sempat dialami pria yang juga anggota Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DeTIKNas) ini. Suatu ketika Jos pernah hendak membeli software Adobe Acrobat. Saat mencari di sebuah pusat perbelanjaan, Jos tidak mendapatan software berlisensi yang Ia inginkan. Akhirnya Jos mencoba membeli software tersebut secara online, tetapi transaksi akhirnya batal karena billing address yang Ia masukkan ternyata tidak diterima."Lagu pahitnya adalah Indonesia sebagai pasar tidak dianggap oleh para principal software. Itulah yang akhirnya saya katakan ketika bertemu dengan BSA (business software alliance), sistem yang membuat orang Indonesia mencuri (pembajakan-red)," Jos menyesali. Menurut Jos penghargaan atas kekayaan intelektual memang sangat penting. Tetapi, lanjutnya, mungkin bisa dipikirkan harga yang lebih sesuai. "Kalau kita tidak bisa tepat pasar (dan) layak harga hal ini (pembajakan software-red) akan terus berlanjut," Jos menandaskan. (ash/wsh)




Hide Ads