Percepat Adopsi OpenSource, 3 Pihak Berkolaborasi
- detikInet
Jakarta -
Guna mempercepat pengadopsian solusi-solusi OpenSource di Indonesia tiga perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi menggalang kerja sama. Perusahaan tersebut yaitu Computrade Technology international (CTI), Indolinux Nusantara dan Red Hat. Diharapkan, dengan kerja sama ini akan lebih mendorong penyediaan paltform software berbasis OpenSource yang stabil, aman dan mendapat dukungan dari berbagai kalangan di Indonesia.Dengan demikian, para pengguna komputer di Indonesia akan memiliki keyakinan yang lebih tinggi untuk berpindah dari solusi-solusi berbasis propretary ke solusi berbasis OpenSource.Memang jika dilihat dari jumlah pengguna komputer di Indonesia, aplikasi OpenSource merupakan suatu alternatif yang menjanjikan dari software proprietary. Meskipun tantangan budaya dan kebiasaan selalu menghadang dalam proses migrasi."Pasar Indonesia dianggap masih sangat terbuka untuk penyebaran OpenSource termasuk untuk berbayar dan itu sangat kami yakin akan hal itu," ujar Shane Owenby, regional manager wilayah ASEAN Red Hat, saat konferensi Pers yang berlangsung di Hotel Niko, Jakarta (15/2/2007).Hal itu didasarkan, lanjut Owenby, karena dukungan pemerintah Indonesia yang mengarah pada penggunaan software Open Source dengan program "Indonesia Goes OpenSource" (IGOS). Dalam kerja sama ini, Indolinux ditunjuk sebagai "Red Hat Certified Training Partner". Sehingga diharapkan dapat mempermudah para perusahaan dalam mencari para profesional di bidang ini."Target kami adalah mengedukasi para profesional TI untuk memiliki keterampilan yang mereka perlukan untuk menjadi pakar Linux dan memastikan bahwa perusahaan pengguna solusi OpenSource memiliki standar perusahaan yang tepat," jelas Andre Kusuma, marketing manager Indolinux Nusantara. Fokus Server EnterpriseSementara itu, untuk ke depannya Red Hat akan lebih memfokuskan untuk bermain di sektor server enterprise untuk pasar di Indonesia. "Kita akan fokus ke pengguna enterprise, bukan ke pengguna dekstop," ungkap Owenby.Pasalnya, Ia menganggap pengguna di pasar server kurang memperdulikan pada kebiasaan yang harus berubah. "Pengguna server enterprise lebih memperhatikan pada security dan stabilitas," Owenby menambahkan.Saat ini Red Hat telah menguasai sekitar 90 persen pangsa pasar server Linux di seluruh dunia dan diharapkan jumlah ini terus berkembang sampai seratus persen, tandas Owenby.
(ash/ash)