Enterprise Tech
'Technopreneur Butuh Kebebasan Berinovasi'
- detikInet
Jakarta -
Pengusaha bidang teknologi (Technopreneur), khususnya informasi (TI) membutuhkan adanya kebebasan dalam berinovasi, tanpa harus terkekang regulasi yang malah menghambat.Semakin pemerintah mengendurkan ketatnya regulasi yang mengatur gerakan grass root komunitas TI di Indonesia, maka akan memberikan dampak positif berupa tumbuhnya TI itu sendiri dan juga aspek bisnisnya.Hal tersebut diungkapkan praktisi telematika, Onno W. Purbo, kepada detikINET, di sela-sela acara Seminar Technopreneurship di Bidang Industri Telematika, yang berlangsung di Roxy Square, Jakarta Barat, Kamis (10/8/2006).Pernyataan Onno tersebut, dilandaskan pada pengamatannya terhadap tren yang berkembang di komunitas TI, khususnya melalui diskusi di mailing list (milist). Onno mengamati sejumlah milist dari tahun 2001 sampai 2006.Dari pengamatan tersebut, tampak adanya pergeseran topik diskusi di komunitas. Jika awalnya mereka mempermasalahkan regulasi pemerintah yang mengekang, maka setelah regulasi dilonggarkan, diskusi bergerak ke arah bagaimana mengembangkan inovasi dan bisnis di bidang itu."Misalnya untuk memperjuangkan kebebasan 2,4 GHz. Setelah komunitas tidak lagi 'berantem' dengan pemerintah, maka terjadi pergeseran topik diskusi di antara mereka," ujarnya.Frekuensi 2,4 GHz dibebaskan untuk kepentingan umum sejak Januari 2005. Sebelum dibebaskan, menurut Onno, diskusi lebih banyak membahas bagaimana 'melawan' kebijakan pemerintah yang dianggap menghambat. Setelah dibebaskan, ternyata diskusi tentang kebijakan tersebut tidak lagi marak, dan digantikan dengan diskusi dari aspek bisnis dan inovasi."Ini membuktikan bahwa kalau memang industri TI mau tumbuh di Indonesia, maka sebaiknya pemerintah jangan terlalu banyak ikut campur, biarkan masyarakat melakukan inovasi tanpa dibatasi regulasi," ujar Onno.Sementara itu, Amir Sambodo, Komisaris Utama PT Krakatau Steel mengatakan bahwa riset dan pengembangan (research and development/R&D), merupakan faktor utama dalam bisnis TI, yang harus diperhatikan oleh para technopreneur."Secara umum, 5-30 persen revenue yang didapat oleh perusahaan TI akan dialihakan kembali untuk R&D," ujarnya saat berbicara di sesi pertama. Menurutnya ada tiga hal untuk mewujudkan kemajuan usaha bidang TI, yaitu Inovator yang berinovasi, technopreneur dan investor.
(ketepi/)