Semikonduktor Bakal Lebih Penting Dibanding Minyak Bumi

Semikonduktor Bakal Lebih Penting Dibanding Minyak Bumi

ADVERTISEMENT

Semikonduktor Bakal Lebih Penting Dibanding Minyak Bumi

Anggoro Suryo - detikInet
Jumat, 20 Jan 2023 10:15 WIB
Intel Core Generasi 12
Ilustrasi prosesor. Foto: Intel
Jakarta -

Minyak bumi, tepatnya lokasi cadangan minyak bumi, sering menjadi salah satu faktor penting dalam posisi tawar geopolitik. Namun posisinya itu bakal digantikan oleh chip semikonduktor.

Hal itu dikatakan oleh CEO Intel Pat Gelsinger dalam wawancara dengan CNN di World Economic Forum yang digelar di Davos, Swiss. Menurutnya, semikonduktor akan lebih penting dibanding lokasi cadangan minyak bumi dalam 50 tahun ke depan.

Menurutnya, selama 50 tahun ke belakang, lokasi cadangan minyak bumi, tanah, dan agama menjadi faktor penentu geopolitik. Namun lokasi cadangan minyak bumi itu akan digantikan oleh teknologi rantai pasokan dan lokasi pabrik semikonduktor.

Intel saat ini punya pabrik semikonduktor di Oregon, New Mexico, dan Arizona, yang terus ditambah kapasitasnya. Lalu mereka pun tengah membangun pabrik baru di Ohio, dan juga menambah kehadirannya secara internasional di Israel, Irlandia, Malaysia, Jerman, dan Italia.

Mereka menyebut sudah menginvestasikan dana sebesar USD 20 miliar untuk dua pabrik chip di AS, dan menyiapkan sekitar USD 90 miliar untuk pabriknya di Eropa.

Investasi itu, menurut Gelsinger, tak cuma menguntungkan Intel melainkan juga penting untuk globalisasi sumber daya paling penting untuk masa depan dunia.

"Kita perlu (chip) yang seimbang secara geografis, dan rantai pasokan yang kuat," kata Gelsinger, seperti dikutip detikINET dari Techspot, Kamis (19/1/2023).

Pendapat Gelsinger ini mungkin ada benarnya, terutama jika mengingat kelangkaan chip semikonduktor yang terjadi pada awal pandemi yang kemudian berdampak pada banyak industri, termasuk industri kendaraan bermotor.

Bahkan Amerika Serikat sampai membuat undang-undang baru bernama Chips and Science Act (CHIPS Act), di mana mereka mengalokasikan USD 52 miliar untuk memberi subsidi ke perusahaan pembuat chip.

"Jika ada satu hal yang bisa kita ambil dari krisis Covid dan perjalanan selama bertahun-tahun, hal itu adalah kita butuh rantai pasokan yang tangguh," tambahnya.

Bos Intel itu juga mengaku kalau perusahaannya dan sejumlah perusahaan lain saat ini sedang menunggu pencairan dana CHIPS Act, yang diharapkan akan cair pada tahun ini.

"Kami sudah berinvestasi, tolong berikan uangnya. Karena kami berasumsi mereka akan membantu kami untuk mengeluarkan investasi besar ini," kilahnya.

Pentingnya mendiversifikasi rantai pasokan semikonduktor ini juga karena industri chip saat ini dikuasai oleh Taiwan. 50% chip yang ada di pasaran berasal dari negara tersebut.

Gelsinger pernah menyebut bahayanya menggantungkan nasib semikonduktor ke Taiwan, terlebih dengan aksi agresif China di negara tersebut beberapa waktu lalu. Pada tahun 2021 Gelsinger pernah menyebut Taiwan bukanlah tempat yang stabil.

"Beijing mengirimkan 27 pesawat tempur ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan. Apa itu membuat anda merasa lebih aman atau sebaliknya," kata Gelsinger kala itu.



Simak Video "Komisi I DPR RI Sayangkan WNI Jadi Agen Intel Asing di Kaltara"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/asj)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT