Enterprise Tech
'Produsen Software Perlu Dukungan Iptek dan Komunitas'
- detikInet
Jakarta -
Untuk menghasilkan software yang dipakai secara luas, industri software perlu dukungan ilmu pengetahuan yang terus berkembang dan dukungan dari komunitas.Hal itu disampaikan Presiden Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki), Djarot Subiantoro, saat berkunjung ke kantor detikcom di Jl Warung Buncit, Jakarta, Senin (31/7/2006).Menurut Djarot, kedua hal tersebut merupakan syarat mutlak bagi pengembang software independen (Independent Software Vendor/ISV) yang ingin tumbuh menjadi besar. Jika kedua faktor tersebut dikuatkan, akan mampu mematahkan siklus alami perusahaan pengembang software yang cenderung tumbuh-mati."Industri software cycle-nya pendek, tumbuh-mati, tumbuh-mati. Di seluruh dunia juga nature-nya seperti itu. Sebagai contoh, pembuat electronic spreedsheet dan WordStar, itu sudah tidak ada lagi sekarang, padahal dulu banyak yang pakai," papar Djarot. "Jadi nature-nya itu berbasis pengetahuan dan komunitas," imbuhnya.Dijelaskan Djarot, kalau pengetahuannya tidak berkembang, produknya akan sulit bertahan di pasaran. Demikian halnya jika komunitasnya tidak berkembang, produk itu tidak akan survive. Menurut Djarot, hal itu juga jadi pemicu diselenggarakannya ajang adu software tingkat Asia Pasifik, Asia Pacific Information and Communication Technology Award (APICTA)."Itu juga yang membuat APICTA diadakan. Karena kalau hanya bermain di masing-masing negara, tidak cukup memenuhi kompetisi. Jadi harus mampu bersaing dengan komunitas global," tuturnya.Menilik kondisi di dalam negeri, industri software di Indonesia dinilai Djarot masih sedikit yang mampu berkembang jadi besar. "Dari 250-an ISV, yang maju paling hanya di bawah 20," ujarnya. "Itupun tidak semuanya pengembang, ada yang hanya memasarkan, ada yang menyediakan service dan implementasi saja." (nks)
(ketepi/)