Masa Depan Ecommerce dalam Ekonomi Digital Indonesia

Kolom Telematika

Masa Depan Ecommerce dalam Ekonomi Digital Indonesia

Ferry Kusnowo - detikInet
Senin, 23 Mei 2022 20:46 WIB
Ilustrasi Belanja Online
Ilustrasi belanja online. Foto: Dok. Zebra
Jakarta -

Ekonomi digital Tanah Air diproyeksikan memiliki prospek yang cerah. Laporan dari Google, Bain, dan Temasek (2021) memprediksi ekonomi digital Indonesia akan terus tumbuh mencapai nilai USD 146 miliar pada 2025. Dari nilai tersebut, ecommerce berkontribusi 71%. Pada 2021 lalu, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar USD 70 miliar dengan pertumbuhan sektoral yang mengagumkan.

Ecommerce tumbuh paling cepat mencapai 52% dibanding sektor-sektor lain, yakni media daring yang mencapai 48%, transportasi dan makanan 36%, dan online travel yang tetap tumbuh 29% di tengah restriksi mobilitas akibat pandemi.

Tren pemulihan ekonomi dan relaksasi mobilitas telah membuat orang kembali "keluar rumah". Perkantoran kembali ramai, begitu juga pusat perbelanjaan. Namun demikian ada kebiasaan baru yang tetap bertahan dari masa ketika orang harus tinggal dan bekerja di rumah selama pandemi, yakni berbelanja secara daring melalui ecommerce karena kemudahan untuk mencari dan membandingkan harga yang lebih nyaman.

Ecommerce juga memudahkan konsumen yang ingin membeli barang yang jauh dari tempat tinggalnya, yang tidak mungkin dilakukan secara langsung. Dengan semakin matang pola belanja daring dan mata rantai pendukungnya, belanja online dan offline akan menjadi kebiasaan yang saling melengkapi pemenuhan kebutuhan konsumen.

Dalam cakrawala yang lebih luas, pertumbuhan ecommerce membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Talenta Indonesia akan banyak terserap oleh pertumbuhan sektor ini. Tidak hanya sebagai pedagang (merchant) atau "orang IT" yang bekerja di suatu platform, tetapi juga banyak pekerjaan tercipta sepanjang rantai pasok sektor ini.

Sebagai contoh, Lazada yang memelopori logistik ecommerce Indonesia kini memperkerjakan lebih dari 15.000 orang sebagai kurir dan pekerja logistik. Begitu juga pekerjaan di sektor kreatif, seperti videografer, editor, hingga livestreamer. Perkembangan di ranah pemasaran digital juga membuka peluang profesi yang spesifik, seperti digital marketer, UI/UX specialist, hingga yang teranyar, pelatihan di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) trainer.

Dampak lain dari pertumbuhan sektor ecommerce adalah berkembangnya program pendidikan dan pelatihan untuk mengembangkan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Ini tentu bertujuan agar mereka dapat mengikuti perkembangan industri yang sangat cepat dan dinamis. Talenta di sektor Ecommerce, dan ekonomi digital pada umumnya, akan menjadi talenta yang siap menghadapi masa depan.

Studi Lazada yang dilaksanakan pada akhir tahun 2021 lalu mengungkap masih kurang siapnya talenta Indonesia saat ini untuk beradaptasi dan mengikuti pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Karena itu, adanya program pendidikan dan pelatihan dari pemain industri, termasuk sektor ecommerce, untuk dukung talenta siap kerja sangat dibutuhkan.