Elon Musk Sampai Utang Demi Beli Twitter

Elon Musk Sampai Utang Demi Beli Twitter

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Jumat, 22 Apr 2022 20:40 WIB
German Chancellor Olaf Scholz, right, Dietmar Woidke, Minister-President of the State of Brandenburg, center, and Elon Musk, Tesla CEO, left, attend the opening of the Tesla factory Berlin Brandenburg in Gruenheide, Germany, Tuesday, March 22, 2022. The first European factory in Gruenheide, designed for 500,000 vehicles per year, is an important pillar of Teslas future strategy. (Patrick Pleul/Pool via AP)
Foto: AP/Patrick Pleul
Jakarta -

Meski berjuluk manusia terkaya di dunia dengan kekayaan USD 270 miliar, Elon Musk sebenarnya tak mampu untuk mengakuisisi Twitter senilai USD 43 miliar tak punya uang tunai yang mencukupi.

Kekayaan bos Tesla dan SpaceX itu mayoritas berbentuk saham. Sementara uang tunai Musk diprediksi 'hanya' mencapai USD 3 miliar. Padahal, akuisisi Twitter senilai USD 43 miliar atau sekitar Rp 620 triliun itu harus dibayar secara tunai.

Alhasil Musk pun memutar otak dalam mencari pendanaan untuk membeli Twitter dan sukses mendapat komitmen pendanaan senilai USD 46,5 miliar. Data tersebut diketahui dari pendaftaran data ke Securities and Exchange Commission.

Uang sebanyak USD 46,5 miliar itu terdiri dari utang sebesar USD 25,5 miliar dari Morgan Stanley, komitmen pendanaan ekuitas sebesar USD 21 miliar, yang mungkin juga berisi uang pribadinya sebesar USD 10 miliar sampai USD 15 miliar.

Komitmen pendanaan tersebut berasal dari sejumlah perusahaan, termasuk Bank of America, Barclays, MUFG, Societe Generale, Mizuho Bank, dan BNP Paribas, demikian dikutip detikINET dari Phone Arena, Jumat (22/4/2022).

Jika Musk memutuskan untuk memberikan penawaran resmi ke Twitter, ia diwajibkan merilis pengumuman publik yang menyatakan akan membeli sejumlah saham (Twitter) dengan harga tertentu.

Sejauh ini memang dewan direksi Twitter tidak tertarik untuk menjual saham Twitter ke Musk, bahkan dengan harga USD 54,20 perlembar saham. Bahkan mereka mengancam akan mengaktifkan "pil beracun" jika Musk memaksa untuk mengakuisisi Twitter (hostile takeover).

Dalam kasus Twitter ini, dewan direksi menyebut saat ada seseorang membeli 15% saham Twitter tanpa seizin dewan direksi, semua pemegang saham Twitter dibolehkan membeli lebih banyak saham Twitter dengan potongan harga besar.



Simak Video "Seberapa Besar Perhatian Elon Musk pada Twitter Dibanding Tesla?"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/asj)