Agar Mampu Bersaing
SDM TI Indonesia Jangan Seperti Seniman
- detikInet
Jakarta -
Dengan Vietnam, yang baru 37 tahun lepas dari perang, industri piranti lunak Indonesia disebut masih kalah. Agar bisa bersaing SDM TI Indonesia diharapkan tidak lagi seperti seniman. Engkos Koswara, Asisten Deputi Pengembangan Jaringan Informasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi, mengatakan Vietnam memang memiliki area berprestasi di bidang Teknologi Informasi. "Buktinya, Intel mau invest di sana, Bill Gates mau datang ke sana," ujar Engkos kepada detikINET, seusai Technical Briefing tentang Linux dan Eclipse, di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Jumat (19/05/2006). Menurut Engkos, Indonesia bisa belajar dari negara tetangga yang lebih sukses. "Paling dasar itu faktor bahasa, faktor Bahasa Inggris itu penting untuk mengadopsi ilmu baru. Kedua, perlu komitmen dari pemerintah, dari yang paling atas," ujar Engkos.Pada kesempatan yang berbeda, Direktur Telematika Departemen Perindustrian Ramon Bangun menyebut Vietnam sebagai salah satu negara tetangga yang perkembangan piranti lunaknya lebih baik dari Indonesia. Selain Vietnam, India dan Singapura juga disebut-sebut unggul dari Indonesia. SenimanUntuk menghadapi persaingan yang semakin ketat tersebut, Ketua Umum Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesia (Aspiluki) Djarot Subiantoro mengatakan, pola kerja dan sistem keyakinan pekerja teknologi informasi di Indonesia perlu diubah. "Yang perlu diubah, keyakinan dan pola kerja kita. Masalahnya kita kerja kayak seniman," ujar Djarot dalam Developers Day yang digelar Kamis (18/5/2006). "Sebenarnya masalah kita adalah masalah kultur, mindset, paradigma. Jadi itu dahulu yang perlu diubah. Kalau di luar itu, seperti beruang, mereka mengumpulkan makanan sehingga pada saat musim dingin ada persediaan. Kalau kita? Hidup untuk hari ini saja," ujarnya. Hidayat G. Tjokrodjojo, Bendahara Aspiluki, juga memiliki keyakinan yang sama dengan Djarot. "Di Indonesia ini, mereka (programmer lokal-red) kebanyakan hanya based on project. Jadi kalau dapat proyek baru, mereka mulai lagi dari nol. makanya tidak maju-maju," tukasnya. Menurut Hidayat, dalam mengembangkan piranti lunak, seseorang perlu menguasai minimal dua bidang ilmu. Ini termasuk ilmu Teknologi Informasi (TI) dan ilmu yang digelutinya. Ia mencontohkan ketika membuat produk untuk Rumah Sakit, maka orang TI harus mengerti juga struktur kerja Rumah Sakit dan apa yang bisa mempermudah proses di Rumah Sakit. (wsh)
(wicak/)