Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
ATPI, Agar Bank Bisa 'Beli Sate' TI

ATPI, Agar Bank Bisa 'Beli Sate' TI


- detikInet

Jakarta - Bank terkadang harus 'beli sapi' teknologi informasi, padahal yang diinginkan hanya 'membeli sate'. Oleh karena itu disusunlah sebuah skema bernama Arsitektur Teknologi Perbankan Indonesia (ATPI). ATPI dianggap dapat meningkatkan posisi tawar bank terhadap vendor karena memungkinkan bank saling berbagi sumber daya teknologi.Hal itu diungkap Jos Luhukay, Ketua Tim Pengembangan ATPI. Dia mengatakan memenuhi kebutuhan kepatuhan (compliance) menjadi salah satu fokus utama perbankan dewasa ini seiring penerapan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan Basel II Accord.Menurutnya, bank harus memiliki arsitektur teknologi informasi (TI) untuk memenuhi tuntutan kepatuhan tersebut. Masalahnya, teknologi perbankan sangat rumit, mahal dan hampir seluruhnya dipengaruhi pihak di luar bank, termasuk vendor dari luar negeri."Setiap bank harus punya arsitektur, tapi 99% banking technology berasal dari luar negeri. Akibatnya mudah terpengaruh kenaikan nilai tukar dolar AS," kata Jos di sela-sela presentasinya di APCONEX 2006, JCC Jakarta, Selasa (9/5/2006).Menurut dia, bank harus mempunyai posisi tawar yang lebih tinggi terhadap vendor atau penyedia teknologi sehingga bank tidak kesulitan, misalnya ketika vendor memutuskan menghentikan pengembangan atau dukungan produk tertentu.Beli SatePosisi tawar yang lebih baik juga memungkinkan bank memilih berbagai alternatif teknologi sesuai kebutuhan dan kemampuannya, daripada membeli semua yang ditawarkan vendor. "Kalau kita mau beli sate, kan kita nggak perlu sapinya," Jos membuat perumpamaan."Anggaran teknologi informasi bank sangat kecil, jauh lebih kecil daripada target penjualan vendor," tutur Jos.Dalam ATPI, bank saling berkolaborasi dalam memanfaatkan sumber daya teknologi informasi untuk mencapai kepatuhan. Pada saat yang sama, mereka tetap saling berkompetisi melalui beragam produk dan jasa. Kolaborasi dalam kerangka ATPI ini bukanlah alih daya (outsourcing) melainkan berbagi sumber daya teknologi yang disebut shared-services. Jika pada alih daya keuntungan hanya dinikmati penyedia layanan, dalam shared-services semua pihak diuntungkan.Pola shared-services ini melibatkan kerja sama antara bank, vendor, penyedia layanan atau operator jaringan dalam satu self-regulatory body. Dalam pola ini, investasi teknologi awalnya dilakukan para vendor yang berkepentingan melayani sejumlah besar bank dalam ATPI, sementara biaya operasional ditanggung oleh bank-bank anggota ATPI dengan besaran dan mekanisme yang disetujui bersama.Untuk mewujudkan pola ini, dibutuhkan standar yang bisa dipakai semua pihak terlibat dan ke depan, ATPI akan merumuskan berbagai standar termasuk untuk sistem core banking dan ATM (anjungan tunai mandiri) switching.Ubah ParadigmaPresiden Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII), Teddy Sukardi, mengatakan ATPI akan mengubah paradigma sistem TI dari sekedar peranti keras dan peranti lunak menjadi utility computing."Dalam skema utility computing ini, jasa sangat penting sehingga pendekatan vendor akan berubah dari hanya berjualan produk menjadi menyediakan layanan," katanya.Dalam utility computing, sumber daya komputasi disalurkan kepada pelanggan seperti halnya layanan utilitas publik. Pelanggan, dalam hal ini bank, hanya membayar sesuai kapasitas atau berdasarkan pemakaian. Country Manager, Financial Services Sector PT IBM Indonesia, Dino Bramanto, mengatakan model shared-services dalam ATPI tidak akan mengubah model bisnis para vendor secara signifikan. "Namun ini menjadi titik pandang baru dalam menyikapi perubahan pola demand pelanggan di Indonesia. Yang sebelumnya bersifat unik untuk satu bank, sekarang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bersama dalam ATPI," tandasnya. (rou) (wicak/)





Hide Ads
LIVE