Digugat Karena Monopoli, Google Play Store Cuan Rp 161 Triliun

Digugat Karena Monopoli, Google Play Store Cuan Rp 161 Triliun

Josina - detikInet
Senin, 30 Agu 2021 22:36 WIB
Ilustrasi google play store, google play store
Google Play Store (Foto: dok. detikINET)
Jakarta -

Induk perusahaan Google Alphabet Inc (GOOGL.O) dilaporkan telah menghasilkan pendapatan sebanyak USD 11,2 miliar atau sekitar Rp 161 triliun pada tahun 2019 melalui toko aplikasi Google Play Store.

Angka ini terungkap pertama kalinya dalam sebuah persidangan di mana Google digugat atas dugaan pelanggaran anti-monopoli pada toko aplikasinya.

Dilansir detiKINET dari Reuters, Senin (30/8/2021) Jaksa Agung Utah dan 36 negara bagian AS lainnya yang menuntut Google atas dugaan pelanggaran antimonopoli dengan toko aplikasi juga mengatakan dalam pengajuan baru bahwa bisnis pada tahun 2019 memiliki laba kotor USD 8,5 miliar dan pendapatan operasional USD7 miliar untuk margin operasi lebih dari 62%.

Angka tersebut termasuk penjualan aplikasi, pembelian dalam aplikasi, dan iklan toko aplikasi. Google mengatakan kepada Reuters bahwa data tersebut digunakan pada gugatan yang tidak berdasar.

Perusahaan dan para penggugatnya mengatakan dalam pengajuan terpisah pada hari Sabtu, sebuah persidangan pada akhir 2022 dimungkinkan mengenai apakah Google menyalahgunakan dugaan monopoli dalam penjualan aplikasi untuk perangkat Android.

Dalam pengungkapan keuangan triwulanan, Google mengelompokkan pendapatan aplikasi Play dengan layanan lain dan memperhitungkan pendapatan iklan toko sebagai bagian dari kategori lain yang lebih luas.

Pengacara umum, serta pengembang aplikasi seluler Epic Games dan lainnya secara terpisah menggugat Google, berpendapat bahwa itu menghasilkan keuntungan besar melalui Play Store dengan mengambil 30% dari biaya untuk setiap barang digital yang dijual di aplikasi.

Penggugat mengatakan pemotongan Google sangat tinggi sehingga menyedot keuntungan pengembang aplikasi.

Google berpendapat bahwa ada alternatif untuk toko dan sistem pembayaran Google, meskipun para kritikus mengatakan rute tersebut tidak layak dan terkadang diblokir.

Penggugat menuduh Google melalui kesepakatan anti persaingan memperpanjang manfaat dan memberlakukan pembatasan pada pengembang besar seperti pembuat League of Legends, Riot Games untuk mencegah mereka meninggalkan Play Store.

Pengajuan oleh Epic Games yang dibuka bulan ini mengatakan Google, menurut dokumen internal, khawatir kehilangan USD1,1 miliar dalam laba toko aplikasi tahunan jika Play Store berhasil dilewati.



Simak Video "Cara Google Ramaikan Perayaan HUT ke-76 RI"
[Gambas:Video 20detik]
(jsn/fay)