Pemasukan Huawei Merosot Hampir 30% Gegara Amerika

Pemasukan Huawei Merosot Hampir 30% Gegara Amerika

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Senin, 09 Agu 2021 17:45 WIB
LAS VEGAS, NV - JANUARY 09:  The Huawei logo is display during CES 2018 at the Las Vegas Convention Center on January 9, 2018 in Las Vegas, Nevada. CES, the worlds largest annual consumer technology trade show, runs through January 12 and features about 3,900 exhibitors showing off their latest products and services to more than 170,000 attendees.  (Photo by David Becker/Getty Images)
Pemasukan Huawei Merosot Hampir 30%. Foto: David Becker/Getty Images
Jakarta -

Pemasukan Huawei selama pertengahan pertama 2021 merosos drastis, turun 29,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Dalam laporannya Huawei menyebutkan pemasukannya pada periode tersebut adalah 320 miliar yuan, turun dari 454 miliar yuan yang mereka dapat setahun sebelumnya, demikian dikutip detikINET dari Zdnet, Senin (9/8/2021).

Jika dipecah, pemasukan dari bisnis perangkat telekomunikasi turun 14% menjadi 137 miliar yuan dan pemasukan mereka dari bisnis consumer turun 47% dari 221 miliar yuan menjadi 136 miliar yuan.

Namun ada juga bisnis Huawei yang mengalami peningkatan pemasukan. Yaitu bisnis enterprise yang pemasukannya meningkat 18% menjadi 36 miliar yuan, demikian dikutip detikINET dari Bloomberg, Senin (9/8/2021).

Ada juga bisnis dari sektor layanan cloud yang mengalami peningkatan. Belakangan ini Huawei memang tengah merambah sektor bisnis baru agar tetap bisa bertahan.

"Tujuan kami adalah untuk bisa bertahan dan melakukannya secara berkelanjutan," ujar Chairman Huawei Eric Xu.

Selain karena sanksi dari Amerika Serikat, penurunan pemasukan ini menurut Huawei juga disebabkan karena kelangkaan chip yang terjadi secara global.

"Sanksi dari AS menjadi hambatan terbesar untuk operasi bisnis kami," keluh Richard Yu, CEO Huawei Consumer Business Group, pada awal 2021 ini.

Akibat sanksi tersebut, Huawei bahkan terlempar dari lima besar market share ponsel di China, dengan pengapalan ponsel sebanyak 6,4 juta unit. Turun jauh dibanding Q2 2020 di mana mereka mengapalkan 27,4 juta unit ponsel, termasuk dari Honor yang kini sudah dilepas.

Penurunan pemasukan dari bisnis peralatan telekomunikasi pun ikut menurun karena pembangunan jaringan 5G di China yang melambat. Untungnya, penjualan peralatan telekomunikasi di luar China meningkat.

Padahal AS jelas-jelas mengajak aliansinya untuk tak menggunakan infrastruktur buatan Huawei karena dianggap membahayakan keamanan negara. Tudingan ini berulang kali ditepis oleh Huawei, dan menyebut tudingan tersebut tidak berdasar dan berbau politis.



Simak Video "Huawei Boyong MateBook D14 dan D15 ke Indonesia, Apa Kelebihannya?"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fyk)