Biden Menang, Ini Ramalan Nasib Huawei Sampai TikTok

Biden Menang, Ini Ramalan Nasib Huawei Sampai TikTok

Fino Yurio Kristo - detikInet
Selasa, 10 Nov 2020 06:08 WIB
President-elect Joe Biden joins Vice President-elect Kamala Harris on stage Saturday, Nov. 7, 2020, in Wilmington, Del. (AP Photo/Andrew Harnik, Pool)
Joe Biden dan sang istri. Foto: AP/Andrew Harnik
Beijing -

Joe Biden telah diumumkan memenangkan Pilpres AS 2020 dan Donald Trump pun harus lengser. Di masa Trump berkuasa, deretan perusahaan teknologi China seperti Huawei sampai TikTok digencet. Media di China pun meramalkan bagaimana nasib mereka saat Biden nanti jadi presiden AS.

Global Times, media corong pemerintah China, menilai kebijakan Biden terhadap China tidak akan begitu saja menjelma menjadi seperti di era Obama. Itu karena relasi kedua negara sudah berubah secara signifikan dalam 4 tahun terakhir.

"Kita tidak seharusnya memberi harapan berlebihan pada Biden karena untuk mengendalikan dan berkonfrontasi dengan China sudah menjadi konsensus strategis antara dua partai politik di AS," sebut Jin Canrong, pengamat dari Renmin University of China.

Namun ia sepakat bahwa Joe Biden bakal lebih dewasa dan moderat menangani urusan luar negeri termasuk dengan China. Da Wei dari University of International Relations in Beijing menyatakan perusahaan teknologi China seperti Huawei dan TikTok bisa jadi akan diberi lebih banyak keleluasaan.

Seperti diketahui, Huawei di era Trump masuk dalam daftar blacklist karena dianggap membahayakan keamanan nasional sehingga tak bisa bebas memakai Android ataupun chip berteknologi Amerika. Sementara TikTok dan juga layanan messaging WeChat tengah dalam proses dilarang beroperasi di AS.

Da meramalkan, setelah Biden memimpin AS tidak lama lagi, pembatasan pada teknologi China mungkin tidak akan langsung dilonggarkan, tapi skalanya lebih sempit dari sebelumnya. Sebagai contoh, anggapan bahwa perusahaan China adalah ancaman keamanan nasional mungkin takkan lagi digembar gemborkan.

"Misalnya, di era Joe Biden, untuk perusahaan seperti TikTok dan WeChat, larangan bagi mereka bisa saja dihapus karena mereka tidak punya konflik berarti atau yang tidak dapat didamaikan dengan AS," katanya.