Sinergi Perusahaan Konvensional dengan Startup adalah Keniscayaan

Sinergi Perusahaan Konvensional dengan Startup adalah Keniscayaan

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Jumat, 25 Sep 2020 12:50 WIB
ilustrasi startup
Foto: Internet
Jakarta -

Pandemi Corona menyebabkan terjadinya perubahan paradigma berbagai perusahaan dan kalangan bisnis, utamanya soal sinergi dengan perusahaan rintisan atau startup.

Meski kebanyakan dari perusahaan konvensional awalnya enggan masuk ke bisnis digital, kini mereka mau tak mau harus bertransformasi agar bisa mengikuti perkembangan zaman.

Kolaborasi, sinergi dan transformasi antara perusahaan konvensional dan digital dinilai Alamanda Shantika Santoso President Director Binar Academy merupakan suatu keniscayaan. Bahkan perusahaan yang semula enggan membuat aplikasi guna mendukung lini bisnis utamanya, kini justru tengah mengembangkan platform digital.

"Saat perusahaan konvensional tengah melakukan transformasi besar-besaran menuju digital. Contohnya saja rumah sakit dan groceries yang tengah mengembangkan platform digital. Perusahaan rintisan digital dan konvensional saat ini memang lagi sangat seru banget melakukan kolaborasi dan sinergi. Bahkan saat ini banyak perusahaan besar baik itu swasta nasional maupun BUMN melakukan investasi langsung ke perusahaan rintisan digital untuk mencari sinergi atau berkolaborasi," terang Alamanda.

Beberapa perusahaan swasta nasional yang sudah melakukan investasi langsung di perusahaan rintisan diantaranya adalah BCA melalui Central Capital Ventura (SYNRGY Accelerator), Astra Internasional, Bank OCBC NISP melalui OCBC NISP Ventura dan Bank CIMB Niaga bersama Genesis Alternatives Ventures.

Sedangkan perusahaan BUMN yang telah melakukan investasi untuk bersinergi dengan perusahaan rintisan diantaranya adalah BRI melalui BRI Ventura Investama, Bank Mandiri melalui Mandiri Capital Indonesia dan Telkom melalui MDI Venture.

Alamanda yang juga menjadi advisor di Mandiri Capital Indonesia mengatakan, banyak manfaat ketika Mandiri memutuskan masuk dan berinvestasi di perusahaan rintisan digital melalui Mandiri Capital. Selain untuk memperkuat lini bisnis yang selama ini sudah berjalan, salah satu keuntungan Mandiri masuk ke startup adalah mempercepat transformasi digital di bank BUMN tersebut.

"Mungkin bisnis konvensional sudah mulai sadar tidak seharusnya berkompetisi dengan perusahaan rintisan digital. Justru saat ini perusahaan rintisan harus bersinergi dan berkolaborasi dengan startup digital. Sebab antara perusahaan konvensional dan digital mempunyai value masing-masing. Transformasi digital tak hanya sekadar membuat aplikasi. Mereka harus merubah bisnis modelnya, kapabilitas serta kapasitas SDM yang dimilikinya," jelasnya.

Jika perusahaan konvensional yang sudah terlalu besar memiliki kecenderungan sulit untuk melakukan transformasi digital. Mereka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat bertransformasi ke digital. Dengan berinvestasi dan berkolaborasi di perusahaan digital startup dipercaya Alamanda akan mempermudah serta mempercepat digital transformasi di perusahaan tersebut.

"Di Mandiri kita saling bersinergi dan membantu satu sama lain. Contohnya bank Mandiri dapat menjual produknya melalui perusahaan startup yang mereka investasi di sana. Kongkritnya ketika Mandiri Sekuritas ingin menjual obligasi retail. Mereka bisa menggunakan startup KoinWorks untuk penjualan obligasi retail. Contoh lainnya adalah AXA Mandiri yang dapat menjual asuransi melalui Amartha," terang Alamanda.

Sebenarnya tak hanya bank Mandiri saja yang bisa memanfaatkan perusahaan startup. Startup binaan bank Mandiri juga dapat memanfaatkan channel yang dimiliki Bank Mandiri.