Telkomsel Tabuh Genderang Perang
- detikInet
Jakarta -
Suasana libur Natal dan Tahun Baru belum lekang dari ingatan, tapi operator seluler sudah mulai melancarkan 'serangan fajar'. Telkomsel yang pertama menabuh genderang perang.Meski awal tahun biasanya selalu ditandai dengan semangat baru. Tapi bagi sebagian orang, rasa malas nampaknya masih belum beranjak pergi. Liburan Natal dan tahun baru yang lumayan panjang bisa membuat otak sedikit membeku.Tapi bagi pihak yang berkecimpung di dunia bisnis, tak terkecuali operator seluler, rasa malas agaknya merupakan sesuatu yang tabu. Tahun baru bagi para pebisnis agaknya sinergis antara semangat baru itu sendiri dan prinsip 'siapa cepat dia dapat'.Adalah operator seluler Telkomsel yang menandai awal tahun ini dengan menabuh genderang perang. Dengan berbekal 'amunisi' tarif, operator itu siap berperang dan mulai melakukan 'serangan fajar'.Setelah sebelumnya melancarkan serangan dengan senjata 'Tarif Hemat Simpati Mulai Lebih Awal', kini operator seluler dengan pelanggan 24 juta itu mulai mengeluarkan amunisi baru, 'Tarif Hemat SMS'. Dalam keterangan tertulis yang diterima detikinet, Rabu (04/01/2006), Telkomsel akan memangkas tarif short message service (SMS) yang dikirimkan oleh pelanggan Simpati ke seluruh pelanggan seluler Telkomsel lainnya (Kartu Halo, Simpati, dan As) sebesar 15 persen. Dengan demikian berarti pengguna Simpati hanya dikenakan Rp 299 per SMS, dan bukan Rp 350 lagi.Dengan 'senjata perang' seperti pemangkasan tarif untuk layanan suara dan pesan singkat, diakui GM Product Management Telkomsel Ahmad Yunus, meningkatkan pemasukan Telkomsel keseluruhan hingga dua kali lipat.Sedangkan VP Marketing & CRM Telkomsel Erik Meijer mengklaim program tarif hemat itu demi kenyamanan pelanggannya dalam berkomunikasi.Apapun alasannya itu, jelas terlihat bahwa Telkomsel sudah mencuri start 'perang' lebih awal. Prinsip siapa cepat dia dapat jelas-jelas diusung dalam 'peperangan' itu.
(rouzni/)