Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
HP dan Motor Ubah Prospek Angkutan di Bali

HP dan Motor Ubah Prospek Angkutan di Bali


- detikInet

Jakarta - Supir angkutan di Bali mulai berubah nasib. Bukan karena teror bom yang sudah dua kali melanda Bali, tapi karena terimbas perkembangan teknologi.Keberadaan HP (handphone) dan sepeda motor membawa perubahan bagi bisnis angkutan di Bali. Sejak kedua benda itu makin banyak dimiliki masyarakat Bali, jasa angkutan jadi kurang diminati. Setidaknya, begitu pengakuan para supir angkutan di Bali."Sekarang-sekarang ini penumpang sepi," kata Wayan Dana, supir angkutan jurusan Klungkung - Denpasar. "Orang-orang sekarang lebih memilih beli HP dan motor. Kalau tidak sangat perlu bertatap muka, mereka kirim kabar pakai HP. Kalau perlu sekali bertatap muka, mereka biasanya pergi naik motor. Kalau yang kaya-kaya, ya pergi naik mobil pribadi," paparnya.Menurut Dana, penumpang angkutan di Bali sekarang lebih memilih beli HP dan motor. "Walaupun hidup susah, tapi mereka pasti mengusahakan untuk punya HP dan motor," kata Dana. "Apalagi sekarang, tidak perlu banyak uang untuk bisa punya motor. Cukup uang muka Rp 500 ribu bisa nyicil motor," ungkapnya.Made Widiyada juga mengatakan hal serupa. "Sekarang sedikit-sedikit orang pakai HP. Jadi kalau mau membicarakan sesuatu, mereka tidak perlu mendatangi orangnya," ujarnya. "Kalau dulu, orang mau pasang telepon masih sulit, tapi kalau HP sampai ke desa-desa juga orang banyak yang punya," paparnya.Tak berlebihan rasanya keluhan para supir angkutan tadi. Menurut pengamatan detikinet, penumpang angkutan memang sepi akhir-akhir ini, khusunya di hari-hari biasa (bukan hari-hari besar keagamaan).Melihat lalu lintas di jalan-jalan propinsi di Bali, banyak angkutan sepi penumpang. Banyak angkutan yang hanya berisi tiga atau empat penumpang. Demikian halnya dengan suasana di terminal bus Ubung dan Batu Bulan. Mobil-mobil angkutan, memilih segera berangkat meski mobil belum lagi terisi setengahnya. "Cari penumpang di jalan saja," kata salah seorang kondektur angkutan antarkota. "Kalau lagi banyak rahinan (hari besar keagamaan), penumpang lumayan ramai. Kalau hari-hari biasa seperti sekarang ini penumpang sepi," uangkapnya."Saya sih akhir-akhir ini memang selalu begini, isi dua langsung berangkat," ungkap Komang Sudiana, sopir angkutan dalam kota.Di akhir pekan, jalan-jalan dipenuhi sepeda motor berisi dua orang. Mereka biasanya memanfaatkan libur akhir pekan di kampung halaman, setelah menimba rezeki di ibu kota, Denpasar. Kondisi seperti ini sudah pasti mengurangi penghasilan para sopir angkutan dan para pengusahanya. "Kalau dulu, minimal setoran harus Rp 65 ribu sampai Rp 80 ribu, sekarang setorannya cukup Rp 35 ribu," kata Wayan Dana. "Saya, sampai sore kadang baru dapat Rp 20 ribu di luar setoran. Ya sudah, habis itu langsung pulang. Penumpang sudah sepi," ungkapnya.Meski begitu tak semuanya angkutan di Bali sepi penumpang. Misalnya bus angkutan menuju Jawa, yang biasanya berangkat sore dan malam hari. Angkutan jurusan Gilimanuk - Padang Bai, yang berangkat dari Gilimanuk pukul 05.00 WITA sampai 07.00 WITA, juga masih ramai penumpang. (rouzni/)







Hide Ads