Pidato Inspiratif Achmad Zaky, Anak Desa yang Beruntung

Pidato Inspiratif Achmad Zaky, Anak Desa yang Beruntung

Tim detikINET - detikInet
Selasa, 10 Des 2019 09:01 WIB
Achmad Zaky. Foto: Hilda Meilisa Rinanda/detikINET
Jakarta - Kesuksesan yang diraih pendiri dan mantan CEO Bukalapak Achmad Zaky tidak datang serta merta. Setidaknya ada tiga hal yang telah mengubah hidupnya.

Semua itu dipaparkan Zaky dalam kuliah umum di hadapan ribuan mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung (ITB) beberapa waktu lalu. Berikut transkrip lengkapnya yang dipublikasikan ulang oleh detikINET.

"Saya ingin berbagi cerita mengenai 3 hal yang menurut saya penting buat adik-adik sekalian:

1. Soal Keberuntungan

Saya berasal dari kampung di pinggir kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Saya bukanlah anak paling pintar di kampung tersebut. Orang tua saya juga bukan paling kaya, keduanya guru mengajar di SMP sekitar rumah. Tapi saya beruntung mereka memikirkan saya, mendidik saya, dan menabung agar saya bisa kuliah di universitas terbaik. Inilah keberuntungan pertama saya dalam hidup. Dan saya kira keburuntungan buat adik-adik semuanya yang sudah kuliah di salah satu universitas terbaik. Kita harus bersyukur karena ini. Manfaatkanlah keberuntungan ini dengan sebaik-baiknya.

Sebagai mahasiswa dari daerah, kuliah di ITB tidaklah mudah. Saya sempat tidak pede karena banyak mahasiswa ITB yang pintar-pintar. Tapi ternyata disinilah keberuntungan saya selanjutnya, saya berteman dengan orang-orang yang jauh lebih pintar. Salah satu teman dekat saya, adalah mahasiswa paling pintar di ITB, dia tidak pernah mendapatkan nilai selain A selama kuliah di ITB 4 tahun. Bahkan untuk mata kuliah Agama dia mendapat A sementara ketua keluarga mahasiswa islam waktu itu mendapat B.

Satu minggu sebelum ujian biasanya saya datang ke kosan dia untuk belajar. Jadi menjelang hari H saya siap betul. Ketika H-1 teman saya banyak bertanya ke saya soal ujian, pasti bisa, wong saya sudah belajar dari mahagurunya. Dengan mengajari teman-teman, saya juga jadi lebih pintar. Mereka tidak tau bahwa saya sebelumnya belajar dari Fajrin. Namanya Fajrin Rasyid, dia kini jadi salah satu pendiri dan CFO di Bukalapak.

Jadi Agar beruntung, bertemanlah sebanyak-banyaknya dengan teman yang lebih pintar. Bidang apapun tidak harus akademik.

Sebagai mahasiswa dari daerah, saya memiliki momok yang sangat besar : Bahasa Inggris. SD tempat saya sekolah di kampung tidak mengajarkan bahasa inggris sama sekali di saat teman-teman SMP saya semuanya mendapatkannya. Di SMP dan SMA, saya hampir tidak lulus hanya karena bahasa inggris. Les tidak membantu karena menjadikan saya malah takut dan minder, temannya banyak anak SD.

Di test TOEFL seITB, saya menduduki peringkat 3 dari bawah. Inilah ketakutan saya selama kuliah di ITB, saya harus mengubur keinginan saya kuliah di luar negeri yang semuanya mensyaratkan TOEFL. IP sebagus apapun tidak akan bisa membantu jika TOEFL kurang bagus. Tapi, Allah berkehendak lain, keberuntungan selanjutnya datang, waktu itu ada beasiswa pertukaran pelajar ke Amerika yang hanya ditujukan untuk mahasiswa yang tidak bisa bahasa inggris.

Saya langsung mencari informasi terkait beasiswa tersebut, saya datangi beberapa alumni yang pernah mendapatkannya untuk menganalisa bagaimana mendapatkan beasiswa tersebut. Rupanya kriteria utama beasiswa tersebut adalah "tidak bisa berbahasa inggris", sudah pasti saya mendapatkan nilai terbaik disini hehe..


Kriteria kedua adalah nilai akademik yang baik, di poin ini saya juga tidak buruk berkat keberuntungan pertama tadi. Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa berangkat ke Amerika Serikat. Setibanya di Amerika, saya baru tau "How are you. I'm fine. Thank you" itu kuno. Saya mulai menyadari bahwa esensi belajar (bidang apapun) adalah melakukan alias Doing, bukan hanya di kelas-kelas atau textbook yang kadang saklek dan menakutkan.

Teman-teman di Amerika juga maklum jika saya salah. Dari sinilah saya mendapatkan banyak teman luar negeri hingga relasi-relasi luar negeri saya yang kelak membantu membesarkan jaringan investor saya untuk membesarkan Bukalapak juga.

Pelajaran dari poin pertama ini adalah keberuntungan datang saat kita siap! Banyak kesempatan di depan mata menanti yang siap diambil. Kita harus siapkan diri untuk mengambil kesempatan-kesempatan yang datang di masa depan.