Lengser, Ini Kisah Jatuh Bangun Achmad Zaky Bangun Bukalapak

Lengser, Ini Kisah Jatuh Bangun Achmad Zaky Bangun Bukalapak

Tim - detikInet
Selasa, 10 Des 2019 06:30 WIB
Achmad Zaky. Foto: detikcom/fyk
Jakarta - Achmad Zaky mengundurkan diri sebagai CEO Bukalapak. Kabar yang cukup mengejutkan dari salah satu startup yang berstatus unicorn tersebut. Zaky adalah sosok yang membesarkannya dari nol.

Berawal dari tahun 2010 dengan modal seadanya, Bukalapak kini memiliki kurang lebih 2.000 pegawai dan menjadi salah satu tujuan utama bagi yang ingin belanja maupun jualan online. Dulu, pria berusia 32 tahun itu harus berusaha keras agar ada yang mau gabung jualan di Bukalapak.

Saat awal-awal berdiri, tak ada sama sekali yang mau mengakses Bukalapak. Para pelaku UKM yang jadi target Bukalapak pun disebut Zaky tak sudi ikut bergabung. "99% UKM menolak. Tapi namanya entrepreneur, tekad kami bulat. Teknologi harus dimanfaatkan oleh UKM," ujarnya.

Garasi kecil menjadi awal kantor Bukalapak. "Waktu kami dari pagi sampai tengah malam habis untuk mengajak berbagai kalangan usaha untuk bergabung Bukalapak. Seringkali kami tidur di garasi kecil kami di bilangan Haji Nawi, Jakarta Selatan," kisah Zaky.

"Weekend kami pun diisi dengan membangun Bukalapak, kadang refreshing sebentar ke Pondok Indah Mall, walau cuma bisa lihat-lihat saja, setelah itu balik ke garasi," tuturnya di blog Bukalapak.


Zaky lahir di Sragen pada 24 Agustus 1986. Meski lahir di desa, ia bersyukur orang tuanya mementingkan pendidikan hingga lulus kuliah dari ITB. Di kampus itu, Zaky gemar mengutak atik software, bahkan pernah mendapatkan proyek membuat software quickcount.

"Setelah lulus, saya sejenak pulang kampung. Saya mengamati banyak sekali tetangga saya di kampung yang memiliki usaha kecil, tapi pendapatannya masih sama dengan belasan tahun sebelumnya, padahal ada inflasi," Zaky menceritakan soal inspirasi berdirinya Bukalapak.

"lnilah yang menjadi inspirasi awal pembuatan software lanjutan ini, bagaimana software bisa membuka kesempatan bagi usaha-usaha kecil seperti tetangga saya dan jutaan usaha kecil lainnya, untuk melebarkan sayap dan berkembang lebih besar lagi," paparnya tahun lalu, saat memberikan kuliah umum di ITB.

"Perjalanan barupun dimulai, saya mencari nama dan domain. Dari ratusan nama yang saya daftar, terpilihlah Bukalapak. Selain harganya murah 90 ribu, nama ini menggambarkan misi software ini, bahwa siapapun bisa semudah menggelar tikar atau lapak dengan software. Siapapun bisa berbisnis dan menjadi besar lewat internet," tutur Zaky.