Saham Publik Minim
XL Dikeluarkan dari IHSG BEJ
- detikInet
Jakarta -
Bursa Efek Jakarta (BEJ) sejak Rabu kemarin (12/10/2005) telah mengeluarkan saham PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) dari penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena minimnya saham publik. "Alasan dikeluarkannya dari IHSG karena saham publik yang benar-benar publik sangat kecil. Akibatnya rawan cornering (penggorengan) dan ini bisa menggangu perhitungan IHSG," kata Dirut BEJ Erry Firmansyah kepada detikinet, Kamis (13/10/2005).Erry menjelaskan, pihaknya telah memanggil manajemen XL pada Rabu (11/10/2005), dan manajemen mengatakan akan membahas dulu dengan pemegang sahamnya mengenai jumlah saham publik ini. "Memang pada awalnya saham publik sudah memenuhi syarat, namun dalam perjalanannya banyak saham publik yang berpindah ke pengendali. Sehingga saham publik sangat kecil," ujar Erry.Sebenarnya kepemilikan publik yang benar-benar publik sudah terlihat kecil, pasca IPO perseroan pada 29 September 2005. Dari jumlah saham yang dilepas sebanyak 20 persen, sebesar 16,8 persen diborong oleh perusahaan investasi asal Malaysia Khazanah Berhard. Sehingga praktis yang benar-benar dibeli investor ritel kurang dari 4 persen.Saham Publik DitambahErry mengatakan, otoritas bursa telah meminta kepada manajemen untuk menambah saham publik. Sehingga pergerakan harganya tidak terlalu fluktuatif yang rawan cornering. "Respons mereka positif," cetus Erry.Menurut Erry, BEJ tidak akan memasukkan saham Excelcomindo dalam penghitungan IHSG jika kepemilikan publik masih seperti saat ini.Pasca IPO, saham Excelcomindo dimiliki mayoritas oleh PT Telekomindo Primabhakti sebesar 48 persen, Indocel Holding Sdn Bhd sebesar 25 persen, AIF (Indonesia) Limited sebanyak 10,14 persen, Khazanah Nasional sebesar 16,81 persen, dan sisanya publik.Harga Saham Excelcomindo terus meroket dibanding harga perdana Rp 2.000 pada 29 September 2005. Sampai penutupan Rabu (12/10/2005) saham Excelcomindo ada di level Rp 4.625 atau naik Rp 225 per saham.Sejumlah analis saham juga mengingatkan kepada investor untuk berhati-hati. Pasalnya, kenaikan saham yang hingga 231 persen ini dalam kurun waktu dua minggu dinilai janggal karena tidak sebanding dengan pertumbuhan fundamentalnya.
(wicak/)