Kamis, 06 Jun 2019 16:52 WIB

Jadi Senjata China, Harga 'Tanah Jarang' Melonjak

Fino Yurio Kristo - detikInet
Penambangan tanah jarang. Foto: Reuters Penambangan tanah jarang. Foto: Reuters
Beijing - Harga logam 'tanah jarang' atau rare earth yang produksinya didominasi China meningkat cukup pesat. Media pemerintah China memang telah mengancam akan membalas dendam aksi Amerika Serikat dalam perang dagang dengan modal 'tanah jarang'.

Jika AS menjegal Huawei, China bisa melarang ekspor logam tanah jarang yang krusial bagi industri pertahanan AS. Tanah jarang atau rare earth adalah sebutan untuk kelompok 17 elemen kimia di tanah. Menurut Bloomberg, AS bergantung pada China untuk pasokan sekitar 80% tanah jarang.

Harga dysprosium metal yang dipakai untuk magnet, lampu berdaya tinggi sampai perangkat kontrol nuklir menurut Asian Metal saat ini melonjak ke harga tertinggi sejak Juni 2012, ke angka USD 292,98 per kilogram.

Harga tersebut naik 14% dari bulan Mei, ketika presiden China, Xi Jinping, mengunjung pabrik rare earth, menandakan mineral itu akan dijadikan modal bagi China melawan AS.


Dikutip detikINET dari Reuters, harga neodymium metal yang sangat penting untuk produksi magnet di peralatan seperti turbin, naik ke level tertinggi sejak Juli tahun silam, menjadi USD 63,25 per kilogram.

Enam perusahaan rare earth terbesar di China adalah China Minmetals Rare Earth Co, Chinalco Rare Earth & Metals Co, Guangdong Rising Nonferrous, China Northern Rare Earth Group, China Southern Rare Earth Group dan Xiamen Tungsten.

"Jika benar China menggunakan rare earth sebagai senjata, AS tidak akan mendapat suplai yang cukup karena mereka butuh waktu untuk membangun kapasitas pemrosesan mereka sendiri, yang saat ini nol," kata Helen Lau, analis industri di Argonaut Securities.

Sebelumnya, Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon langsung bereaksi begitu China mengancam akan melarang ekspor 'tanah jarang', yang krusial buat peralatan militer. Pentagon sedang mengusahakan pendanaan untuk meningkatkan produksi tanah jarang secara domestik.


"Departemen terus bekerja erat dengan presiden, konggres, dan industri AS untuk meningkatkan daya saing AS di pasar mineral," kata juru bicara Pentagon, Kolonel Mike Andrews.

Antara tahun 2004 sampai 2017, China mengekspor sekitar 80% tanah jarang ke AS. Hanya ada sedikit alternatif karena China memiliki 37% persediaan tanah jarang global dan punya fasilitas produksi memadai. (fyk/fyk)