Jumat, 31 Mei 2019 16:29 WIB

Wilayah China Ini Simpan 100 Juta Ton 'Tanah Jarang'

Fino Yurio Kristo - detikInet
Penambangan tanah jarang. Foto: Reuters Penambangan tanah 'jarang'. Foto: Reuters
Jakarta - Mineral 'tanah jarang' jadi gertakan baru dari China yang mengancam akan melarang ekspornya ke Amerika Serikat. Mineral yang dipakai di barang elektronik sampai industri pertahanan AS itu memang dominan diproduksi di sana. Sekitar 80% pasokan tanah jarang di AS berasal dari China.

Penambangan terpusat di wilayah Bayan Obo di Mongolia Dalam yang masuk administrasi China, yang menyimpan deposit tanah jarang terbesar di Bumi. Kotanya bernama Baotou, dapat dicapai dengan penerbangan selama setengah jam dari Beijing.

Baotou yang populasinya 2,7 juta orang, telah menjadi pusat produksi tanah jarang sejak tahun 1950-an, sejak Partai Komunis China menggeber industri mineral itu. Separuh produksi tanah jarang di China berasal dari sini dengan total deposit sedikitnya 100 juta ton.




Semua dimulai oleh perusahaan bernama Bao Steel yang berdiri tahun 1953. Waktu itu, perusahaan ini berstatus rahasia negara dan pabriknya dijaga oleh tentara agar tak dimasuki orang sipil.

China membuat terobosan penambangan tanah jarang pada tahun 1984, berkat tim periset dari Research Institute of Rare Earths. Mereka sukses mengekstrak elemen tanah jarang dari Bayan Obo.

Dikutip detikINET dari Metro, elemen itu termasuk Lanthanum, vital untuk pembuatan baterai, Europium sebagai bahan lampu merkuri ataupun Gadolinium yang umum digunakan di pemindai X ray.

Selain di Baotou, kota Ganzhou juga punya deposit tanah jarang yang cukup besar. Minggu lalu, presiden China, Xi Jinping, mengunjungi wilayah itu, yang menguatkan rencana bahwa China berniat menggunakan tanah jarang sebagai salah satu upaya melawan AS dalam perang dagang.

China adalah eksportir terbesar tanah jarang di dunia, memproduksi lebih dari 95% dari kebutuhan dunia. Produksinya mencapai 120 ribu ton per tahun.

AS sebenarnya pernah memegang status produsen tanah jarang terbanyak sampai sekitar tahun 1980-an. Akan tetapi banyak pabrik ditutup karena masalah biaya dan polusi, serta juga tekanan kompetisi dari China. Kini, AS benar-benar bergantung pada impor.





Tonton video Bos Huawei Tak Setuju Jika China ''Balas Dendam'' Boikot Apple:

[Gambas:Video 20detik]

(fyk/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed