Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Lee Kang Hyun, Samsung Indonesia:
Bom Bali II dan BBM Naik, Bisnis TI Turun 20 Persen
Lee Kang Hyun, Samsung Indonesia:

Bom Bali II dan BBM Naik, Bisnis TI Turun 20 Persen


- detikInet

Jakarta - Direktur PT Samsung Elektronik Indonesia Lee Kang Hyun menuding peristiwa Bom Bali II dan kenaikan BBM sebagai penyebab turunnya bisnis berbasis teknologi informasi (TI) secara general hingga 20 Persen. Kondisi itu diprediksikan Kang Hyun belum akan membaik hingga akhir tahun."Gara-gara bom bali dan kenaikan BBM, kondisi bisnis TI di Indonesia secara general (akan) turun hingga 20 persen," ujar Lee pada saat pembukaan World Cyber Game (WCG) yang disponsori oleh Samsung. Acara itu berlangsung di Mal Taman Anggrek Jakarta, Selasa (4/10/2005). "Kondisi yang sulit ini saya kira belum akan membaik hingga akhir tahun," tambahnya.Menurut Kang Hyun, bisnis TI harus tetap berjalan meski dalam kondisi seperti saat ini. "Biar pun sulit kita tetap harus lakukan bisnis TI ini. Kita juga tetap sponsori WCG untuk mendorong ICT (information, communication and technology-red). Bukan bermaksud untuk meracuni anak muda agar tergila-gila dengan game," paparnya.Dengan kondisi seperti ini, Kang Hyun mengatakan, secara general ada penurunan permintaan terhadap produk TI sekitar 20-30 persen. Produk-produk TI yang dimaksud Kang Hyun antara lain ponsel dan monitor."Memang ponsel turun, tapi tidak secara signifikan. Kalau kita jual terlalu mahal bisa kabur konsumen kita. Kita jaga supaya demand tidak ikutan turun. Permintaan monitor juga turun dari angka tahun lalu," ujarnya. Khusus untuk monitor, menurut Kang Hyun, angka fluktuasinya sekitar 10 persen.Kritik Kebijakan PemerintahPemerintah yang berada dibalik penurunan bisnis TI gara-gara menaikan BBM, dianggap Kang Hyun telah salah melakukan kebijakan."Dengan pemerintah menaikan BBM, Saya tidak yakin rupiah bakal jadi stabil. Saya bosan dengan janji pemerintah," dengusnyaPadahal menurutnya, untuk mengembalikan pasar bisnis TI seperti semula, diperlukan nilai rupiah yang kuat terhadap dolar AS. "Pemerintah harus keluarkan kebijakan biar rupiah stabil," tambahnya."Meski rupiah terhadap dolar di atas Rp 10.000, asalkan stabil tidak akan menggoncangkan pasar. Kalau begini terus saya pusing jadinya," keluh Kang Hyun. "Padahal Kalau kondisi rupiah stabil, saya yakin kondisi bisnis TI bisa kembali normal,"Bagaimana tidak pusing, menurut Kang Hyun, "Sepanjang bulan Agustus, September, Oktober, merupakan hot season-nya penjualan barang-barang elektronik dan TI," kesalnya. Oh pantesan... (rouzni/)






Hide Ads