Selasa, 07 Mei 2019 15:03 WIB

Jelang IPO, Uber Terancam Diboikot Driver

Rachmatunnisa - detikInet
Aksi protes driver mengenai kenaikan tarif Uber beberapa tahun lalu. Foto: Tech Crunch Aksi protes driver mengenai kenaikan tarif Uber beberapa tahun lalu. Foto: Tech Crunch
Jakarta - Rencana Uber melantai di bursa saham mendapat perlawanan keras dari komunitas pengemudi. Beberapa hari jelang initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana, komunitas pengemudi menyerukan boikot.

Adalah New York Taxi Workers Association (NYTWA), mengajak seluruh pengemudi di Amerika Serikat (AS) melakukan sebuah gerakan solidaritas bersama para pengemudi di London, Inggris, baik pengemudi Uber maupun Lyft. Aksi ini rencananya akan berlangsung pukul 7-9 pagi waktu setempat pada 8 Mei 2019.




"Dalam pengajuan IPO, Uber berencana memotong gaji kami dan menghentikan insentif. Kami tidak mau diupah minimum," kata anggota NYTWA Sonam Lama seperti dikutip dari Tech Crunch, Selasa (7/5/2019).

"Kami ingin Uber menjawab kami, bukan kepada investor. Ini mengeksploitasi pekerja dengan mengambil hak-hak kami, harus dihentikan. Uber adalah aktor terburuk dalam hal ini," sambungnya.


Di San Francisco, para driver ini mengorganisir protes di markas besar Uber, diikuti dengan penutupan aplikasi Uber selama 12 jam.

Menanggapi rencana boikot tersebut, Uber mengatakan mitra pengemudi adalah jantung dari layanan yang dijalankannya.

"Kami tidak akan sukses tanpa mereka, dan ribuan orang yang datang bekerja di Uber setiap harinya, fokus pada bagaimana membuat pengalaman menggunakan layanan kami lebih baik lagi," kata juru bicara Uber.

"Karenanya, apakah itu perbaikan penghasilan yang lebih konsisten, perlindungan asuransi yang lebih kuat, atau jaminan penuh selama empat tahun untuk pengemudi dan keluarga mereka, yang pasti kami akan terus bekerja untuk meningkatkan pengalaman bagi pengguna maupun pengemudi," sambungnya.




Momen ini mengingatkan pada ketika Lyft, kompetitor Uber melakukan IPO. Saat Lyft IPO, salah satu penggerak aksi Shona Clarkson menyebutkan bahwa hari itu adalah hari yang menyedihkan bagi para pekerja yang menjadi mitra pengemudinya.

"Sulit melihat sebuah perusahaan menghasilkan bertumpuk-tumpuk uang, sementara mereka, para mitra pengemudi tidak merasa aman memikirkan tentang tempat tinggal, sewa rumah, atau tagihan rumah sakit," ujarnya.

Saat itu, para pengemudi Lyft melakukan aksi turun ke jalan di San Francisco dan San Diego. Sementara sebagian pengemudi tidak keberatan bekerja secara kontrak di Lyft, sebagian lainnya bersatu menyuarakan upah yang lebih besar, serta kebijakan upah, tips dan tarif yang transparan.


(rns/krs)