Selasa, 19 Feb 2019 20:02 WIB

Soal Investasi Asing Startup, Indonesia Bisa Berkaca ke Alibaba

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Grandyos Zafna/detikcom Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Jakarta - Bagi startup, investasi yang bersumber dari luar negeri bukan persoalan utama, mengingat konglomerat di Indonesia masih terbilang minim.

Demikian yang disampaikan Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung di sela-sela konferensi pers Pasar idEA di Stario Tower, Jakarta, Selasa (19/2/2019). Menurut Untung, investasi asing itu diperlukan.

"Kalau saya melihatnya, investasi asing itu perlu, terutama untuk e-commerce karena bisnisnya multidisiplin, cari uang, dapat, usaha sekeras-kerasnya, uangnya habis, cari lagi, begitu kan? Tiap ada pendanaan baru, valuasinya naik," ujarnya.

"Nah, sekarang bicara unicorn terbesar di Indonesia itu valuasinya sudah di atas Rp 100 triliun, sementara orang terkaya di Indonesia, kalau nggak salah, uangnya Rp 500 triliun. Artinya, kalau dilihat dari nilai perusahaan ini, cuma dua orang atau keluarga yang bisa beli perusahaan ini," tutur Untung.




Dilanjutkannya, jika investasi asing ke startup dibatasi, maka perusahaan ini tidak akan tumbuh. Sebab, orang Indonesia yang bisa membeli perusahaan tersebut hanya terhitung dengan satu jari.

"Padahal, mereka uangnya habis, kalau nggak diterusin, ya uangnya hangus karena sudah spending," kata Untung.

Menurut Untung, konteks investasi ini harus dilihat sebagai enabler. Meski kekhawatiran soal uangnya ke luar negeri tak sepenuhnya hilang.

"Keluarnya dalam bentuk apa sih? Dalam bentuk deviden. Kalau perusahaannya sudah untung, kan ada devidennya kan, devidennya dibayarkan tapi pajak deviden dulu dan negara dapat. Lalu, besaran deviden sama nilai sahammnya kira-kira besaran mana? Besaran sahamnya kan, jadi kalau namanya usaha lebih gede modalnya, kalau untung lebih besar dari modal itu perusahaan sudah gede," urai dia.

Selain itu, perlu dilihat dari berapa banyak pelaku UMK yang terdampak yang ditimbulkan dari investasi asing ini. Untung mengatakan, bila ada uang yang keluar dalam bentuk deviden, maka anggap itu ongkos untuk menggerakkan ekonomi.

Pada kesempatan ini, Untung meluruskan bahwa investasi dari luar negeri tidak serta-merta kalau perusahaan tersebut berubah kepemilikannya jadi punya asing.

Umumnya, pengendali perusahaan itu pemegang saham terbesar. Kalau di e-commerce, pengendalinya adalah pemegang saham khusus.




"Pemegang khusus berapa besarnya itu adalah pendirinya. jadi, kalau Tokopedia itu William, Bukalapak itu Zaky, Go-Jek itu Nadiem, dan Traveloka itu Ferry. Empat orang itu yang tetap pengelola biarpun ngomongin kepemilikan sahamnya di bawah 10%, tapi tetap mereka punya saham khusus, pengelolaan perusahaan tetap mereka yang pegang," kata pria berkepala plontos ini.

Mengenai hal tersebut, Indonesia bisa berkaca dari China, di mana e-commerce raksasa mereka, yaitu Alibaba yang pemegang mayoritasnya bukan pendirinya.

"Bukan Jack Ma, paling besar adalah Softbank dari Jepang. Apakah habis itu menguntungkan Jepang? Enggak juga. Ya, menguntungkan dari satu sisi, tetapi dampak Alibaba untuk China itu besar sekali," pungkasnya.


(rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed