Senin, 18 Feb 2019 16:05 WIB

Apple Rekrut CEO Startup Gagal

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Getty Images Foto: Getty Images
Jakarta - Sam Jadallah sempat mempunyai startup yang menjanjikan. Membuat kunci pintu pintar seharga USD 700. Namun usahanya gagal, dan ia memecat para karyawannya tanpa memberi pesangon.

Namun kini Jadallah direkrut Apple untuk memimpin sebuah inisiatif rumah pintar anyar milik Apple. Perusahaan yang mungkin sejalan dengan pemikirannya terhadap sebuah rumah pintar.

Nama startup gagal Jadallah adalah Otto, yang produk andalannya adalah sebuah kunci pintar, yang sebenarnya cocok untuk diberi label sebagai produk buatan Apple. Kunci senilai USD 700 itu tampil mewah, bergaya minimalis yang tak banyak menarik perhatian, sesuai dengan gaya Apple di banyak produk buatannya.

Sebelumnya, Apple memang sudah mulai menggarap ranah rumah pintar, namun mereka hanya membuat platform untuk teknologi tersebut, yaitu HomeKit. Di ekosistem tersebut, Apple bergantung pada perusahaan lain untuk membuat bermacam perangkat rumah pintar, kecuali speaker pintar HomePod yang mereka buat tentunya.




Namun tampaknya hal itu tak cukup untuk Apple, maka mereka merekrut Jadallah untuk memimpin inisiatif pembuatan perangkat rumah pintar yang lain, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Senin (18/2/2019).

Tak cuma itu, sebelumnya Apple pun merekrut bos AI Google untuk meningkatkan performa Siri. Lalu Apple pun membeli startup AI yang ada di balik fitur percakapan suara di Hello Barbie.

Kisruh Jadallah di Otto

Jadallah sendiri sempat dipertanyakan di Otto, karena ia dulu memecat karyawannya secara mendadak, dengan pemberitahuan hanya dua hari sebelum pemecatan tanpa kompensasi apapun. Lebih parahnya, pemecatan itu dilakukan tak lama sebelum musim liburan dimulai, yang membuat para karyawannya kesulitan mencari pekerjaan baru.

Bahkan ada juga mantan karyawannya yang tak dibayar selama berbulan-bulan. Otto memang bermasalah secara keuangan, meski mereka mempunyai produk yang bagus.

Menurut Jadallah, ia terpaksa melakukan itu karena ada sebuah perusahaan besar yang membatalkan niat akuisisinya terhadap Otto. Meski Jadallah menolak untuk menyebut nama perusahaan itu.

"Pada awal September, kami didekati oleh sebuah perusahaan publik yang mengerti produk buatan kami, proses pembuatannya, dan kesempatan yang bisa diraih. Awalnya mereka menawarkan untuk berinvestasi, namun dengan cepat berubah menjadi akuisisi. Pada 11 Desember, mereka menghubungiku dan menyatakan tak akan menyelesaikan akuisisi itu ataupun melanjutkan proposal investasinya," tulis Jadallah.

Padahal menurutnya, Otto sudah setuju untuk tak mencari sumber pendanaan lain sementara mereka menunggu proses akuisisi itu selesai. Alhasil kondisi keuangan Otto menjadi kacau dan terpaksa berhenti beroperasi.


(asj/krs)