Rabu, 12 Sep 2018 12:53 WIB

Startup Unicorn, Harapan Investasi, dan Stabilitas Rupiah

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Adi Fida Rahman/detikINET Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta - Demi mempercepat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, pemerintah berusaha menarik lebih banyak investasi asing ke dalam negeri. Pentingnya investasi asing ditekankan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Jokowi menilai kehadiran nvestasi yang terus tumbuh berdampak pada arus uang yang masuk ke dalam negeri untuk menggerakkan kegiatan ekonomi.

Berkat iklim ekonomi yang terbilang kondusif, saat ini total investasi langsung (investasi asing ditambah domestik) di Indonesia naik 11,8% tahun ke tahun menjadi Rp 185,3 triliun pada kuartal pertama 2018.

Hal itu menunjukkan minat investor yang kuat dan menimbulkan optimisme bahwa target investasi langsung setahun penuh dapat tercapai.



Tak dapat dipungkiri, tingginya minat investasi asing adalah populasi yang besar dan jumlah pengguna internet yang terus meningkat. Besarnya pengguna internet menjadikan Indonesia perlahan-lahan bergerak menuju ekosistem ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebut terdapat 143,26 juta orang Indonesia menggunakan internet pada akhir 2017. Ini merupakan pasar yang sangat menggiurkan bagi perusahaan rintisan yang bermimpi untuk menjadi unicorn.

Derasnya laju pertumbuhan ekonomi digital yang ditandai dengan guyuran investasi dari para investor global, dengan segera mengantarkan empat startup menyandang status unicorn, yakni perusahaan dengan valuasi nilai lebih dari USD1 miliar.

Saat ini terdapat empat unicorn Indonesia, yakni Go-Jek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak. Kehadiran unicorn sangat membantu pemerintah yang tengah berusaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tengah ketatnya iklim investasi global.

Kontribusi unicorn diyakini menjadi juru selamat perekonomian karena besarnya nilai konsumsi dan investasi yang dihasilkan dari berkembangnya ekonomi digital.

Salah satu unicorn yang kini bersinar terang adalah Go-Jek. Didirikan oleh Nadiem Makarim pada 2010, Go-Jek adalah perusahaan teknologi yang memiliki banyak investor asing seperti Google (AS), JD.com dan Tencent (China).

Menurut catatan lembaga kajian ekonomi digital Sharing Vision, hanya dalam tempo kurang dari 10 tahun, Go-Jek telah berkembang super cepat. Yakni memiliki 2.900 karyawan di 3 negara, 65 juta pengguna, 1,2 juta mitra driver, 300 ribu merchant, serta tersebar ke 75 kota dari Aceh ke Papua.

Sebagai penerima manfaat utama investasi asing di Indonesia, Go-Jek tentunya wajib menginvestasikan dana ini untuk kemajuan negeri. Terutama dalam membantu menumbuhkan perekonomian, meningkatkan lapangan kerja dan menstabilkan mata uang.



Namun, keputusan Go-Jek untuk berinvestasi di negara lain, termasuk Vietnam, sepertinya menunjukkan bahwa Go-Jek kini tidak lagi berfokus pada pasar domestik. Karena arus modal keluar, ekspansi yang dilakukan oleh Go-Jek menjadi kontra produktif bagi perekonomian Indonesia.

Satya Widya Yudha, Wakil Ketua Komisi 1, mengkritisi langkah yang dilaukan Go-Jek tersebut. Menurutnya jangan bangga dulu menjadi go global kalau pasar domestik saja belum dikuasai.

Go-Jek dikatakan Satya harusnya meningkatkan penguasaan pasar dalam negeri terlebih dahulu seperti yang dilakukan negara China.

"Pasar dalam negeri masih luas. Pemain didorong untuk menjadi penguasa dalam negeri. Baru kuasai pasar luar negeri. Belajar dari China yang punya keunggulan komparatif dan kompetitif dengan teknologi yang dimiliki," kata Satya di Jakarta, Rabu (12/9/2018).

Berdasarkan laporan ABI Research's Vehicle and Mobility Market Data report, pada awal 2017, GO-JEK menguasai 58% pasar sementara pesaing terdekatnya Grab hanya memiliki 30% saja. Tetapi pada akhir Juni 2018, Grab mengambilalih kepemimpinan dengan peraihan pangsa pasar ride-hailing sebesar 62%.

Ekspansi ke Vietnam dikhawatirkan Satya yang akan menikmati nanti justru mereka (negara Vietnam) terutama dari sisi value chain.

"Jangan sampai Indonesia hanya jadi extended market dari para investor asing. Saya berharap startup unicorn Indonesia benar-benar bisa menjadikan negara ini sebagai pangsa pasarnya," ungkap Satya di Gedung DPR RI, Jakarta (12/9/2018).

Di sisi lain, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan Eva Kusuma Sundari menilai, kehadiran Unicorn ini membantu pemerintah yang sedang berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan inovasi di Tanah Air.

Namun, para unicorn ini seharusnya mampu lebih memahami peran mereka dalam pergerakan ekonomi Indonesia, terutama di saat rupiah tengah melemah.

"Indonesia perlu tingkatkan index kompetisi agar para unicorn tetap stay menggarap pasar dalam negeri, karena potensi kita sangat besar," ujarnya. (rou/fyk)