CA: Perlu Edukasi TI untuk Pimpinan Perusahaan
- detikInet
Jakarta -
Untuk mendapatkan keuntungan dari penerapan teknologi informasi (TI) perlu diterapkan dari atas yaitu sang pengambil keputusan. Kebijakan TI yang salah, dapat membuat perusahaan rugi. Pernyataan tersebut diungkap Karl Verhulst, Director Product Marketing CA Internasional. Menurutnya setiap perusahaan membutuhkan IT governance, untuk menentukan siapa yang mengambil keputusan untuk kebijakan TI. Hal itu lanjutnya dirasa perlu karena tugas TI di perusahaan adalah sebagai penyokong keberhasilan bisnis."Tidak semua CEO perusahaan mengerti TI. Hal itu tentunya berdampak pada kebijakannya dalam pengambilan keputusan," ujar Karl, di sela-sela presentasinya di Hotel Intercontinental Jakarta, Kamis (4/8/2005). "Siapa yang harus sentralisasi dan siapa yang harus disentralisasi dalam pengambilan keputusan TI," tambahanya.Pengelolaan teknologi informasi yang baik, lanjutnya, menjadi persyaratan yang penting bagi departemen TI di seluruh perusahaan. Hal itu dikarenakan mereka diwajibkan untuk memberikan layanan yang berkualitas. Berdasarkan data dari sekolah bisnis Harvard yang dikutip Karl, perusahaan dengan sistim pengelolaan TI yang efektif, memperoleh laba 20 persen lebih tinggi, dibanding perusahaan lain yang mengejar bisnis yang sama.Hal itu menurutnya, disebabkan oleh sistim pengelolaan TI yang menitikberatkan pada akuntabilitas pengeluaran bisnis yang berhubungan dengan TI dan membantu perusahaan menyelaraskan investasi TI dengan perioritas mereka."Apabila keputusan yang dibuat oleh pembuat kebijakan -- yang tidak mengerti TI -- salah, jangan harap budget perusahaan untuk TI bisa balik seperti yang diharapkan," kata Karl. "Sistim pengelolaan TI harusnya jadi prioritas utama untuk CEO," tambahnya.Sertifikasi PerusahaanDewasa ini branding telah menjadi salah satu pilar dari reputasi perusahaan dalam menjalankan bisnis. Hal itu merupakan acuan pengukur kualitas tingkat layanan bagi pelanggan, kepastian bisnis, reputasi, serta kepercayaan. Branding yang dimaksud, menurut Karl ialah perolehan sertifikasi ISO yang diakui di seluruh dunia. "Dengan sertifikat ISO, anda bisa berbisnis di negara mana saja dan tidak diragukan," kata Karl. "Kalau sudah ISO certifite, berarti sudah terjamin sistim proseduralnya," kata Karl.ISO (International Standar Organisation) merupakan sertifikat pengakuan secara internasional. Ada bermacam-macam sertifikasi ISO yang dikeluarkan seperti ISO 9000 untuk industri, ISO 15000 untuk layanan TI dan ISO 1799 untuk keamanan TI.Untuk mendapatkan sertifikasi ISO tidaklah mudah karena prosesnya cukup sulit dan perlu biaya yang cukup besar. Itulah sebabnya perusahaan yang sudah mendapatkan standarisasi ISO dianggap valid dan kualitasnya tidak diragukan lagi. "Kesulitan untuk mendapatkan sertifikasi itulah yang membuat perusahaan itu diakui. Tapi kita bisa tawarkan tools untuk bantu mendapatkannya," kata Karl.Menurut Jiono, coutry manager CA Indonesia, perusahaan yang memiliki standarisai ISO untuk setiap hal yang di-update dan diaudit kebenaran sistim yang dijalankan. "Ada yang mengontrol prosedur policy dari atas. Itulah sebabnya IT governance diperlukan," ujar Jiono. "Jadi sebelum kita terapkan tools untuk bantu persuahaan dapatkan ISO, kita juga harus mengedukasi pimpinan terlebih dulu," jelasnya.Untuk mengedukasi pimpinan perusahaan, CA bersama konsultan-konsultan bisnis di setiap negara, menyelenggarakan roadshow di enam negara di Asia. Roadshow tentang penerapan terbaik, standarisasi dan sistim pengelolaan TI. Negara-negara yang dimaksud Malaysia, Singapura, Filipina, Bangkok, India dan Indonesia.
(wicak/)