Pasca Bom London
Inggris Evaluasi Teknologi Scanner Tubuh
- detikInet
Jakarta -
Akibat adanya serangan bom di London beberapa waktu lalu, pemerintah Inggris dan polisi berencana untuk mengevaluasi teknologi scanning yang mampu melihat benda di balik baju dan mendeteksi adanya bom dan senjata pada tubuh seseorang. Saat ini, teknologi yang digunakan adalah teknologi imaging dengan gelombang milimeter (milimeter wave imaging technology). Teknologi ini dikembangkan oleh perusahaan peneliti pertahanan Qinetiq dan dibiayai pemerintah. Alat tersebut digunakan untuk mendeteksi barang seludupan yang disembunyikan di kendaraan bermotor di bandara di Inggris. Sembilan bulan setelah diimplementasikan, scanner ini berhasil mendeteksi penyelundupan 10.000 imigran gelap, yang bersembunyi di belakang truk. Saat ini Qinetiq telah membuat alat pendeteksi lain yang lebih kecil. Alat ini dirancang untuk mendeteksi seseorang atau kumpulan orang, dengan menunjukkan gambar permukaan tubuh dan objek 'terlarang' yang ada di balik pakaian. Charles Clarke, Home Secretary (setara dengan Menhankam-red) mengatakan, pemerintah akan mengevaluasi sistim ini untuk dilibatkan dalam kampanye anti teror begitu alat ini tersedia, awal bulan Agustus. "Milimeter wave imaging adalah salah satu teknologi yang sedang dievaluasi oleh polisi dan Home Office Scientific Development Branch. Alat ini digunakan untuk mendeteksi bom dan senjata yang berada di balik pakaian," kata Clarke. "Alat ini menggunakan radiasi non ion yang dipancarkan oleh semua objek di sekitarnya atau dapat digunakan untuk dalam ruangan," paparnya.Tetapi tambahnya, seperti semua sistim pendeteksi bahan peledak, teknologi harus diterapkan sebagai bagian dari sistim keamanan terencana yang meliputi sistim peralatan, staff dan prosedur. Ini penting untuk menginterpretasikan data dan informasi yang dikumpulkan oleh peralatan. Neil Fisher, direktur solusi keamanan Qinetiq mengatakan, satu alat scan ini dapat mendeteksi gambar bergerak milik 500 orang setiap jamnya. Di Amerika Serikat, sistim transportasi menginginkan adanya alat scan yang mampu menscan 400 orang per menit di stasiun kereta bawah tanah."Tidak ada teknologi yang bisa melakukan hal tersebut, tetapi kami berusaha mengkombinasikan detektor dan sensor untuk menghasilkan sistim yang dapat mendekati keinginan tersebut," kata Fisher.Laporan menyebutkan, transportasi di London telah siap mencoba teknologi scanning yang dapat digunakan di stasiun Tube. Akan tetapi, untuk rencana lebih lanjut, Fisher mengatakan, perusahaan akan terus melakukan dialog dengan agen keamanan yang menangani Departemen Transportasi setempat.
(wicak/)