Wang Xiang, Senior Vice President Xiaomi, sempat mengatakan bahwa pihaknya selalu menatap pasar Amerika Serikat secara serius. Menurutnya, pasar tersebut sangat penting baginya, namun tetap sangat berhati-hati dalam melayani konsumen di negeri Paman Sam tersebut nantinya.
Baca juga: Xiaomi Incar Valuasi Rp 1.397 Triliun |
Ucapannya pun ditunjukkan dengan laporan yang menyebutkan bahwa Xiaomi sudah menggelar pertemuan dengan sejumlah operator seluler di AS untuk membahas masalah penjualan ponsel buatannya. Perusahaan yang berbasis di Beijing ini pun diperkirakan dapat masuk ke pasar AS pada akhir tahun ini atau awal 2019.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena ini tampak dari keputusan sejumlah pabrikan seperti OnePlus, Huawei, dan Blu yang memilih untuk menjual ponsel mereka lewat platform seperti Amazon. Smartphone Essential buatan Andy Rubin pun hanya diterima oleh Sprint. Sedangkan Lenovo sampai mengakuisisi Motorola Mobility dari Google pada 2014 lalu untuk mengukuhkan kehadiran mereka di AS.
"Pasar ponsel di AS sangat dikontrol oleh para operator. Untuk memperoleh izin distribusi dengan operator, vendor perlu melewati proses yang sangat ketat dan mahal untuk mendapat persetujuan dari pihak penyedia jasa telekomunikasi," ujar Richardson.
Menurutnya, Xiaomi perlu melakukan investasi di sini. Hal tersebut dikarenakan jika mereka memutuskan untuk bergerak sendiri, maka peluang mereka untuk bersaing di pasar akan mengecil.
"Tapi, jikalau Xiaomi memang bisa melewati ujian dari operator, maka mereka mau tidak mau harus mengikuti cara mereka dalam masuk ke pasar. Ini akan sangat berbeda jika melihat cara Xiaomi, tapi dengan kemampuan adaptasi yang cepat mereka akan dapat melakukan ekspansi secara internasional," tutur Richardon.
Di samping itu, lini masa kedatangan Xiaomi ke pasar AS bisa dibilang tidak di waktu yang tepat, jika perselisihan antara vendor China dengan AS masih panas seperti sekarang. Terlebih, hubungan negara-negara tersebut memang sedang tidak akur terkait potensi perang dagang antara keduanya.
Sejumlah lembaga pemerintahan Amerika Serikat sudah memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak membeli smartphone dari China, dengan Huawei dan ZTE menjadi dua nama yang paling disorot. Hal tersebut pun diperparah dengan keputusan peritel Best Buy dan operator AT&T untuk menjual ponsel buatan Huawei.
Meski sulit untuk mengatakan Xiaomi berada di posisi yang lebih baik dari Huawei atau ZTE, setidaknya mereka bisa banyak belajar dari Lenovo. Perusahaan yang memiliki kantor pusat di Beijing dan California ini bisa dibilang tidak mendapat kritik tajam dari pemerintah layaknya dua perusahaan asal China tersebut.
Baca juga: Asus: Xiaomi Itu Kompetitor yang Kuat |
Selain itu, Xiaomi juga punya pekerjaan rumah untuk meningkatkan branding mereka agar dapat bersaing di pasar AS. Hal tersebut pun menjadi perhatian tersendiri bagi Patrick Moorhead, Presiden sekaligus founder dari Moor Insights & Strategy, sebuah firma analisis.
"Tantangan terbesar perusahaan ini bisa jadi adalah branding, akan sulit bagi sejumlah orang untuk mengucapkan namanya," ucap Moorhead, sebagaimana detikINET kutip dari CNBC, Jumat (4/5/2018).
Meski memiliki sejumlah kesulitan di AS, Xiaomi nyatanya sudah menencapkan kukunya lebih dalam di daratan Eropa pasca melakukan debut di Spanyol akhir tahun lalu. Hal tersebut tampak setelah mereka melakukan kerja sama dengan Three untuk masuk ke pasar Britania Raya.
"Kami sudah memerhatikan kesuksesan Xiaomi dan kami terkesan dengan perangkat-perangkat yang mereka tawarkan," ujar Chief Digital Officer Three untuk Britania Raya, Tom Malleschitz. Ke depannya, perusahaan pimpinan Lei Jun ini juga akan mulai dijual di Austria, Denmark, dan Swedia. (jsn/asj)