Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Masuk Indonesia
Red Hat Targetkan Rp 196 M di Pasar Server
Masuk Indonesia

Red Hat Targetkan Rp 196 M di Pasar Server


- detikInet

Jakarta - Baru masuk Indonesia, Red Hat berani menargetkan pendapatan Rp 196 miliar di pasar server. Momentum sweeping Windows bajakan di warnet pun dilihat sebagai peluang. Kalau soal pusat riset?Untuk tahun 2005, PT Computrade Technology International (CTI) menargetkan pemasaran Red Hat di pasar server mencapai US$20 juta (Rp 196 miliar) . Hal itu dilakukan dengan menggarap pasar pengganti Unix yang berjalan di server X86 Intel dan AMD. CTI adalah distributor tunggal Red Hat di Indonesia. Untuk meraih pendapatan tersebut, CTI mengaku akan meningkatkan pendapatan dengan cara melakukan sinergi dengan dukungan Red Hat sendiri. "Red Hat tumbuh cepat di server," kata Rachmat Gunawan, Associated Director Computrade Technology International (CTI) pada wartawan Kamis (7/7/2005) di Hotel Shangri La Jakarta."Kami hanya menjual layanan support saja. Anda tidak perlu beli ini itu untuk produk kami," kata Harish Pillay, Manager Partner Development Red Hat untuk Asia Pasific. "Itulah kelebihan kami dibanding produk lain. Bahkan untuk layanan premium, kami sediakan layanan sampai 7 tahun," tambahnya.Red Hat Linux merupakan sistim operasi yang tidak berbayar, meskipun digunakan untuk perusahaan besar dan dikomersilkan. Pillay menekankan yang dibisniskan oleh Red Hat hanya dukungan layanan dan solusi. Menurutnya, apabila suatu perusahaan menggunakan Linux dan punya pegawai yang andal untuk menangani Linux, berarti perusahaan tersebut tidak memerlukan layanan Red Hat. "Tapi kalau suatu saat pegawai anda pergi, anda tidak perlu takut menggunakan Linux, karena masih ada kami," ujarnya berpromosi. Tentang masalah keamanan di Red Hat, menurut Pillay juga tidak perlu dikhawatirkan. "Anak-anak saya di rumah menggunakan Linux, mereka tidak khawatir virus. Malah saat mereka di sekolah menggunakan Windows, mereka khawatir akan virus, spyware dan sebagainya," jelas Pillay.Selain server, Red Hat juga mengincar pasar UKM seperti warnet. Maraknya sweeping warnet juga dianggapnya sebagai pasar potensial. "Warnet bisa mendapatkan layanan penuh dari kami. Desktop environment, web browser, web cam, instant messaging, semua tersedia," ujar Pillay berpromosi. Menurut Pillay, Red Hat Linux sangat mudah diadopsi. Red Hat untuk Enterprise Solution menjamin layanan penuh 24 jam sehari, seminggu penuh dan waktu respon satu jam dari pengaduan masalah.Emoh Bikin Pusat RisetKetika ditanyakan tentang ketertarikan Linux membuat pusat riset layaknya Microsoft di Indonesia, Pillay hanya menggelengkan kepala. Menurutnya Red Hat tidak perlu pusat riset di Indonesia karena memiliki banyak pengembang di seluruh dunia. Bahkan menurut Rachmat, pengembang Linux juga berasal dari perusahaan besar seperti IBM dan HP. "Mereka bahkan mengembangkan dengan mengadopsi dari sistim operasi mereka yang tertutup," ujar Rachmat."Meskipun Red Hat punya pusat riset di India dan Brisbane (Australia-red), kami belum berencana membuat pusat riset di Indonesia," kata Pillay. "Tapi kita merencanakan membuat partner pelatihan dengan universitas di Indonesia seperti yang dilakukan Cisco," tambahnya. Red Hat Academy, demikian nama pelatihan yang direncanakan tahun ini di universitas menurut Pillay.Oracle Berbasis Linux Meningkat 400%Pengguna Oracle berbasis sistim operasi Linux meningkat 400 persen. Hal itu dikarenakan pengguna yang sebelumnya menggunakan Linux hanya untuk aplikasi kecil meningkat ke solusi enterprise. Hal itu diungkap Rachmat. Menurutnya, CTI selain bertindak sebagai distributor Linux Redhat Enterprise Solution, juga menaungi perusahaan solusi database Oracle. "Berarti pemakai linux makin banyak," ungkap Rachmat. "Hal itu dikarenakan Linux yang makin kompatibel dengan piranti lain dan sudah banyak supporting kit-nya," tambah Pillay.Menurut Pillay, server Oracle untuk operasi global menggunakan Red Hat Enterprise untuk mengolah datanya. Bahkan menurut Beng Santosa, Product Manager CTI, produk Playstation 2 keluaran Sony berjalan di atas Linux. "Semua peranti seperti iPod, USB flash disk, kamera digital sekarang kompatibel dengan Linux khususnya Fedora Core dan Red Hat," jelas Beng.Keterangan Foto: Cover: Rachmat Gunawan, Associated Director CTI (kiri) dan Harish Pillay, Manager Partner Development Red Hat untuk Asia Pasific (kanan).Isi: Harish Pillay, Manager Partner Development Red Hat untuk Asia Pasific.Fotografer: Tim Detikinet. (rouzni/)






Hide Ads