Senin, 12 Mar 2018 21:02 WIB

Perlukah Intel Akuisisi Broadcom demi Jegal Qualcomm?

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Reuters/Tyrone Siu Foto: Reuters/Tyrone Siu
Jakarta - Rencana Broadcoam mencaplok Qualcomm dengan mahar ribuan triliun rupiah diprediksi akan mengganggu bisnis Intel di berbagai sektor. Perlukah Intel kemudian mengakuisisi Broadcom?

Seorang analis berpendapat, akuisisi yang akan dilakukan oleh Intel terhadap Broadcom tidak akan terjadi. Adalah Handel Jones, seorang konsultan dari International Business Strategies, yang mengatakan hal tersebut.

"Intel tidak akan bertambah kuat meski mereka benar-benar mengakuisisi Broadcom. Bagi saya, Intel tidak akan mendapatkan manfaat apapun," katanya, sebagaimana detikINET kutip dari Wall Street Journal, Senin (12/3/2018).

"Produk-produk yang dimiliki Broadcom, tidak akan berpadu dengan baik terhadap operasional manufaktur Intel," ia menambahkan. Selain itu, Intel sendiri sudah melakukan sejumlah tindakan akuisisi dalam beberapa waktu terakhir.



"Kami telah melakukan sejumlah akuisisi penting selama lebih dari 30 bulan terakhir, seperti terhadap Mobileye dan Altera. Fokus kami pun adalah mengintegrasikannya dengan perusahaan dan membuatnya bermanfaat kepada pelanggan dan pemegang saham," ujar juru bicara Intel.

Mobileye sendiri, yang merupakan firma teknologi kendaraan otonom, dibeli Intel pada tahun lalu. Sedangkan Altera, perusahaan pembuat chip, diambil alih pada akhir 2015, sekaligus menjadi akuisisi terbesar Intel dengan nilai USD 16,7 miliar.

Meski begitu, analis Stacy rasgon dari Bernstein Research mengatakan bahwa Intel akan menghadapi tantangan besar jika Qualcomm benar-benar menyatu dengan Broadcom. Ia berkaca pada gabungan pendapatan keduanya yang mendekati USD 40 miliar pada tahun fiskal 2017.

Angka tersebut sudah mendekati torehan yang dicapai oleh Intel, yaitu USD 63 miliar dalam periode yang sama. Telebih, Broadcom dan Qualcomm memiliki peran besar di sektor yang tengah diincar oleh Intel.

Broadcom merupakan salah satu perusahaan yang memiliki peran besar di sektor pusat data. Sedangkan Qualcomm berstatus sebagai pemimpin pasar global dalam urusan penyedia chip untuk ponsel pintar.

Intel sendiri tengah melipat gandakan anggarannya di bisnis pusat data. Hal tersebut diwujudkan dengan menjadi penyuplai untuk nama-nama seperti Amazon dan Microsoft. Keduanya bahkan bisa menghabiskan puluhan miliar dollar AS tiap tahunnya untuk mengembangkan teknologi cloud milik mereka.



Sektor chip untuk smartphone juga sudah diincar oleh Intel, berkaca pada pergerakan perusahaan ini dengan menyuplai iPhone milik Apple, sekaligus mengambil alih porsi milik Qualcomm.

Satu tantangan yang bisa dihadapi oleh Intel adalah usaha Qualcomm dalam mengakuisisi, NXP Semiconductors NV. Perusahaan asal Belanda ini merupakan spesialis penyedia chip untuk industri otomotif.

Pertaruhan besar pun sudah dilakukan Intel di dalam industri otomotif dengan menggelontorkan dana sebesar USD 15,3 miliar untuk membeli Mobileye. Perusahaan ini merupakan salah satu pemain besar dalam urusan sensor yang digunakan dalam membantu pengendara mengendalikan mobilnya.

Intel sendiri dikabarkan sudah merancang strategi untuk mengakuisisi Broadcom sejak tahun lalu, berkaca pada perusahaan yang diincar tengah berusaha untuk mengambil alih Qualcomm.

Mahar terakhir yang diajukan oleh Broadcom untuk Qualcomm adalah USD 117 miliar. Jika tawaran tersebut disetujui oleh Qualcomm, maka ini akan menjadi akuisisi terbesar sepanjang sejarah di industri teknologi. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed