Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Dilihat Siapa yang Belanja
Toko Online Bisa 'Mainkan' Harga
Dilihat Siapa yang Belanja

Toko Online Bisa 'Mainkan' Harga


- detikInet

Jakarta - Banyak konsumen belanja online tidak menyadari akan kebiasaan toko online untuk memberlakukan harga berbeda untuk orang yang berbeda, padahal produknya sama. Hal ini terungkap dari hasil survei. Hal ini juga kerap terjadi pada perdagangan di dunia nyata. Dari hasil penelitian dibuktikan, dua pertiga pengguna internet percaya bahwa praktek yang biasa disebut 'penyesuaian harga' (price customization) ini, adalah tindakan melanggar hukum. Penelitian yang diadakan Annenberg Public Policy Center, University of Pennsylvania menunjukkan, 87 persen orang keberatan jika toko online membebani pembeli dengan harga yang berbeda-beda untuk barang yang sama. Apalagi jika kebijakan harga tersebut dibebani berdasarkan informasi yang diperoleh dari kebiasaan belanja mereka. Menurut Willi Stabenau, seorang musisi asal New York yang ikut serta dalam survei tersebut mengatakan, "Ingatlah selalu! Mereka mengincar uang anda dan membuat anda mengira bahwa mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengecil-ngecilkan harga," kata Stabenau, seperti dilansir Associated Press dan dikutip detikinet Jumat (3/6/2005). Sebetulnya kebijakan mengubah harga sesuai dengan perilaku belanja pelanggan dan kecenderungan-kecenderungan yang mereka punya tidak ilegal sama sekali. Kecuali kalau itu dilakukan atas dasar alasan perbedaan ras, jenis kelamin, atau jika melanggar ketentuan harga yang berlaku di pasaran, kata Stabenau.Internet memang memberi keleluasaan sepenuhnya bagi calon pembeli untuk membanding-bandingkan harga dengan situs-situs toko online lain. Namun, sembari itu mereka juga memantau secara sembunyi-sembunyi data-data perilaku konsumen. Curang, ya?Dari hasil penelitian tersebut, sepertinya para peneliti mendesak pemerintah untuk segera meminta pihak pengecer untuk membeberkan informasi yang mereka peroleh tentang pelanggan, bagaimana data tersebut digunakan. Bahkan, para peneliti menganjurkan agar sektor pendidikan mengajarkan kepada siswa-siswanya untuk melindungi diri mereka sebagai konsumen.Joseph Turow, salah seorang peneliti mengemukakan, ada situs fotografi yang menawarkan sebuah kamera digital dan perangkat-perangkat lainnya dengan harga berbeda. Tergantung apakah pembeli tersebut sudah mengunjungi situs perbandingan harga atau belum. Dia juga menambahkan, toko kelontong kini tengah gencar-gencarnya menawarkan potongan harga dan kupon sesuai dengan kebiasaan belanja konsumen. Sebagai informasi, hasil penelitian adalah berdasarkan survei yang dilakukan dengan metode wawancara melalui telepon. Survei diselenggarakan sejak Februari hingga Maret 2005. Responden terdiri dari 1.500 orang dewasa yang mengaku telah menggunakan internet selama 30 hari. Penelitian ini memiliki batas kesalahan sampling sebesar kurang lebih 2,51 persen. (wicak/)





Hide Ads