IBM: Perusahaan Lupa Sempurnakan Proses TI
- detikInet
Jakarta -
PT IBM Indonesia mengungkap kecenderungan perusahaan di Indonesia yang melupakan penyempurnaan proses teknologi informasi. Sejauh ini perusahaan tersebut hanya terfokus pada penambahan kapasitas hardware dan lisensi software."Perusahan di Indonesia sejauh ini hanya fokus pada penambahan kapasitas hardware dan lisensi software. Namun cenderung lupa penyempurnaan proses TI," kata Anthonius Henricus, Technical Services Manager PT IBM Indonesia kepada wartawan di kantor IBM, Jakarta, Kamis (2/6/2005). Proses yang melibatkan aplikasi inti perusahaan, menurut Anthonius, dalam kondisi tertentu bisa berdampak negatif pada server. "Server mati, downtime, pergantian aplikasi serta aktivitas yang berhubungan dengan core aplication bisa mengurangi kinerja server," paparnya. Penyempurnaan proses TI menurut IBM bisa diupayakan melalui layanan integrasi. IBM mengembangkan layanan integrasi dengan peranti lunak untuk membantu mengotomatisasi dan standarisasi cara perusahaan-perusahaan dalam merancang dan mengintegrasikan berbagai proses TI. Layanannya mencakup penanganan keamanan hingga penambahan server di berbagai divisi di perusahaan.Menurut Anthonius, saat ini permintaan layanan integrasi di Indonesia masih sedikit karena kebutuhannya masih terbatas dari perusahaan besar yang mempunyai sistem TI yang kompleks. "Namun pasarnya sendiri masih terbuka lebar karena kebutuhannya terbatas dari perusahaan yang sarat dengan sistem TI," ujar Anthonius. "Saat ini IBM sedang membangun awareness untuk pasar yang spesifik, lebih ke pasar enterprise," papar Anthonius. "Layanan penyelarasan integrasi untuk perusahaan di Indonesia dirasa perlu karena perusahaan perlu strategi untuk mendefinisikan permasalahan secara jelas." tambahnya. Menurut Anthonius produk IBM disesuaikan dengan standar spesifikasi IT Infrastructure Library -- pendekatan layanan manajemen TI yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Pendekatan yang berasal dari regulasi SOX (Sarbanes Oxley) ini, juga akan diterapkan untuk produk-produk lamanya. Regulasi Sarbanes Oxley (SOX) merupakan undang-undang yang mengharuskan perusahaan yang terdaftar di New York Stock Exchange (NYSE) untuk mengikuti perkembangan IT Infrastruktur Library. Tahun ini IBM membidik empat proyek integrasi otomatisasi pada proses kerja sistem teknologi informasi, di mana dua diantaranya sedang dalam pengerjaan. Proyek tersebut disesuaikan dengan spesifikasi IT Infrastructure Library di sektor telekomunikasi dan perbankan di Indonesia. Menurut Erwin Sukiato, Country Manager Software group IBM Indonesia, dengan mengelola proses TI secara terintegrasi, perusahaan dapat memfokuskan SDM dan sumber daya TI yang dimilikinya pada prioritas bisnis yang lain. "Teknologi bukan masalah bagus atau tidaknya saja, yang penting bagaimana teknologi itu bisa mendukung bisnis," kata Erwin Sukiato, Country Manager Software Group IBM Indonesia. Kebutuhan pengelolaan sistem TI mulai dari IT Helpdesk akan berkembang menjadi pengelolaan infrastruktur secara keseluruhan. IBM saat ini meluncurkan paket solusi integrasi yang meliputi perangkat lunak, layanan dan konsultasi TI seperti Tivoli Unified Process yang merupakan solusi pertama yang mengikuti standarisasi IT Infrastructure Library, Tivoli Change and Configuration Management Database dan Tivoli Proccess Manager.
(wicak/)