Cara Google Rayu Go-Jek dkk Beralih ke Cloud

Cara Google Rayu Go-Jek dkk Beralih ke Cloud

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 28 Nov 2017 16:59 WIB
Managing Director Google Cloud Asia Pacific Rich Harshman (Rachmatunnisa/detikINET)
Jakarta - Google menyelenggarakan Cloud Summit pertamanya di Indonesia. Gelaran ini memamerkan berbagai keunggulan layanan Google Cloud untuk menarik perhatian perusahaan teknologi lokal.

Bertempat di Ritz Carlton, Pacific Place, Selasa (28/11/2017), Google Cloud Summit dihadiri lebih dari 1.800 eksekutif, pelanggan, mitra, developer, manajer IT dan para engineer Google yang membangun masa depan teknologi cloud.

"Kami membawa kekuatan Google Cloud ke beragam bisnis Indonesia dan membantu mereka dalam memberikan solusi khusus melalui berbagai platform dan perangkat," ujar Managing Director Google Cloud Asia Pacific Rich Harshman.

Dikatakannya, layanan Google Cloud bagi perusahaan teknologi tak terbatas hanya dalam hal migrasi, namun juga dalam memadukan teknologi mereka dengan teknologi Google, serta menyediakan tim dukungan untuk membantu menghadapi tantangan serta menangkap
peluang.

Google menghadirkan sejumlah perusahaan lokal Go-Jek, BlackBerry Messenger, Tokopedia dan perusahaan Asia Tenggara yang melebarkan sayapnya ke Indonesia, seperti Carousell untuk berbagi pengalaman menggunakan layanan Google Cloud.

Pada intinya, acara ini menyoroti pentingnya bagi para pelaku bisnis untuk menghadapi tantangan baru dan bergerak menuju teknologi cloud. Menjadi PR pula bagi Google untuk merayu dan meyakinkan organisasi dan perusahaan yang masih ragu beralih ke cloud.

Google Cloud Summit Rayu Perusahaan Teknologi Lokal Head of Customer Engineering Southeast Asia Google Cloud Jay Jenkins (Rachmatunnisa/detikINET)


"Alasan utama kini banyak organisasi dan perusahaan berpindah ke cloud justru karena cloud menawarkan keamanan lebih," sebut Head of Customer Engineering Southeast Asia Google Cloud Jay Jenkins.

Respons ini diungkapkan Jay untuk meyakinkan perusahaan yang belum yakin berpindah ke cloud, karena khawatir soal keamanannya.

"Misalnya saja, jika ada bug dan celah di sistem operasi, normalnya untuk menambalnya butuh waktu tiga bulan. Waktu tiga bulan ini berisiko," ujarnya memberi contoh.

Jay pun menggunakan kesempatan ini untuk mempromosikan teknologi cloud yang ditawarkan Google, salah satunya dengan penggunaan sistem container.

"Sistem container memudahkan tim pengembangan bergerak cepat, penyebaran software dan operasional berjalan efisien dan naik tingkat. Pada kasus bug di sistem operasi, sistem akan secara otomatis melakukan patch dan update," paparnya.

Ditambahkannya, bertranformasi ke digital tak hanya bicara soal teknologi tetapi juga mengenai proses. Jadi menurutnya, bisa mengawasi semua proses ke arah digital dengan beralih ke cloud akan banyak membantu.

"Beralih ke cloud untuk mengubah proses, membantu mengubah operasional, agar mereka menjadi organisasi yang lebih lincah dan reaktif, tak hanya dari sisi bisnis tapi juga dari sisi keamanan," tutupnya. (rns/rou)