Jumat, 29 Sep 2017 18:16 WIB

Para Startup Ini Jadi Jawara Tanpa Latar Belakang TIK

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: dok. Telkom Foto: dok. Telkom
Jakarta - Untuk membangun sebuah aplikasi, para pendiri startup ternyata tak harus berlatar belakang teknologi informasi komunikasi (TIK). Yang penting adalah ide dan eksekusinya.

Contohnya startup yang satu ini. Mungkin tak ada yang pernah memperhatikan, bahwa seseorang biasanya memakan waktu sekitar sekitar 15 menit untuk menghabiskan minuman dalam gelas.

Makanya, sebuah iklan dalam cup gelas tersebut, bisa jadi lebih efektif dan efisien dibandingkan beriklan melalui TV atau radio yang hanya sepintas lalu.

Inilah yang membuat pebisnis minuman bahkan tak perlu beli gelas karena bea produksi sudah diperoleh dari pengiklan dari depan cup tersebut. Jika gelas habis, melalui aplikasi, bisa disampaikan infonya untuk dipasok kembali.

Tak kalah pentingnya, bahan baku gelas tersebut dibuat dari kertas yang mudah diurai sehingga ramah lingkungan.

Itulah sekilas profil Share Cup dari Jakarta, juara pertama Socio Digi Leader (SDL) 2017, kompetisi sosial berbasis TIK yang dihelat Telkom sepanjang pertengahan Mei hingga akhir September ini.

Share Cup dinobatkan jawara, sekaligus berhasil menyisihkan ratusan peserta SDL 2017, beberapa bahkan berasal dari Australia, Belanda, Jerman, India, dan Prancis di Gedung Bandung Digital Valley, Bandung.

CEO Share Cup Steven Aditya mengatakan, pihaknya memberi alternatif kepada advertiser melalui paper cup dengan harga jauh lebih hemat.

Bersama rekan-rekannya, yaitu COO Share Cup Eunike Regina Febby dan CEO Technology Share Cup Yosua Nathanael, ketiganya sebenarnya tak berlatar TIK.

Ketiganya mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Nanyang Technological University. Steven merupakan mahasiswa teknik mesin, Yosua teknik elektro, dan Eunike dari teknik kimia. Akan tetapi, rasa ingin memberi dampak sosial kepada Indonesia, membuat mereka belajar otodidak.

"Semua tentang coding juga belajar dari internet dan scratch. Design juga waktu itu pakai Power Point. Tapi penting sekali dalam setiap aplikasi startup mempertimbangkan dampak sosial. Kalau hanya bisa menghisap sumber daya tanpa memberi impact, Indonesia bisa hancur," ujarnya setelah dinyatakan juara.

Para Startup Ini Jadi Jawara Tanpa Latar Belakang TIKFoto: dok. Telkom


Mereka dipilih sebagai pemenang oleh Ketua Dewan Juri Herdy Harman (Chief Human Capital Officer Telkom), Billy Boen (pengusaha), Alamanda Santika (praktisi TIK), dan Nadine Chandrawinata (artis dan sociopreneur maritim).

Share Cup akan memperoleh hadiah Rp60 juta, beasiswa, serta company visit ke Eropa. Selepas mereka, juara kedua diraih Travel Share (Rp 45 juta, beasiswa, dan company visit ke Hongkong) dan juara ketiga Market Hub (Rp 30 juta, beasiswa, dan company visit ke Hongkong).

SDL yang dihelat keduanya kalinya setelah tahun kemarin meneruskan tradisi sebelumnya ketika pemenang SDL 2016 dikirim antara lain ke Google, Facebook, Plug & Play di Silicon Valley, Amerika Serikat, Net CV di Hong Kong, serta Pay Pal Incubator di Singapura. Program employee branding ini sekaligus berusaha mencari karyawan BUMN TIK terbesar di Indonesia tersebut.

Startup Share ke depannya ingin segera mempeluas konsep bisnisnya tersebut. Selain itu, mereka ingin menciptakan bungkus makanan reuseable guna mengurangi sampah plastik dan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

Masih Tanpa Latar Belakang TIK

Tanpa latar belakang TIK juga terjadi pada pemenang kedua, Travel Share, sebuah platform tentang relawan di bidang pariwisata.

CEO Travel Share Fidhzarian Utama saat ini sedang mengambil jurusan master International Development di University of Manchester. Begitu juga rekannya , Risya Nurfitriani di jurusan pemasaran dan Cindy Hapsari di organisational change di kampus sejenis.

"Travel Share menjadi media bagi traveller guna mendapat aktivitas volunteering di destinasi wisata berdasarkan skill yang dimiliki. Secara tidak langsung, Travel Share juga dapat meningkatkan marketing, sehingga warga Indonesia bisa menjadi relawan di daerah-daerah terpencil di Indonesia," sambungnya.

Banyaknya destinasi wisata di Indonesia menjadi tantangan bagi Travel Share dalam melakukan pendekatan, terlebih lagi kepada operator tur wisata. Namun, tantangan tersebut tidak terus jadi hambatan, karena tanpa latar belakang TIK saja, mereka dapat menjadi runner up SDL 2017.

Menurut mereka, Telkom memang benar-benar mendukung dan memberi media bagi anak-anak muda kreatif untuk berkolaborasi sehingga muncul kreativitas tersebut.

Mereka berharap ajang serupa konsisten diadakan kedepannya. Terlebih, bukan sekedar kompetisi, sampai digelar Bootcamp seminggu di Bali dengan hadirkan mentor juara.

Berbeda dengan Share Cup dan Travel Share, Market Hub ditangani orang-orang yang mumpuni di bidang TIK. Mereka adalah Dewa Wahyu (CEO) dan Deta Utama Putra (Web Master) dari STIKOM Indonesia serta Dody (Chief Product Development) dari STIMIK Primakara di Bali.

Ketiganya berusia di bawah 24 tahun, tetapi memiliki kepekaan dari fenomena yang dilihat dan menerapkannya melalui Market Hub.

"Kami melihat bahwa market place di Indonesia sudah banyak. Namun, masih ada merchant yang jarang jualan online, kalaupun ada, mereka hanya ada di satu tempat saja. Jadi, Market Hub memungkinkan konsumen belanja online pada satu tempat namun mencakup seluruh market place dalam satu dashboard," ujarnya.

Dewa Wahyu mengatakan, SDL memberi pelajaran kepada mereka bahwa ide kreatif tidak berarti apa-apa tanpa usaha mewujudkannya. Anak muda harus berusaha memberi ide kreatif meski belum bisa memberi dampak lebih besar.

"Kami tidak ingin bersaing dengan yang lain. Kami pure ingin membantu Indonesia. Kami tidak merasa bersaing pada Socio Digi ini. Karena, semakin banyak yang ikut, maka semakin banyak juga yang turut membantu Indonesia, terutama dari segi usaha kecil menengah," pungkasnya. (rou/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed