Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
Peran Vital Infrastruktur Berkaca dari Booming Pokemon Go
Kolom Telematika

Peran Vital Infrastruktur Berkaca dari Booming Pokemon Go


Penulis: Andre Iswanto - detikInet

Foto: Getty Images
Jakarta - Pokemon Go berhasil mereguk kesuksesan dalam waktu singkat. Jutaan orang langsung mengunduh game berbasis teknologi geo-tagging dan Augmented Reality tersebut bahkan sejak hari pertama diperkenalkan.

Menilik hal ini, ada pembelajaran yang seharusnya dapat dimanfaatkan bisnis dalam menyiapkan layanan untuk pelanggannya. Jangan sampai layanan mengalami gangguan pada akses, atau bahkan tidak dapat diakses sama sekali, yang pada akhirnya mengganggu pengalaman pelanggan.

Mengambil contoh dari Pokemon Go, tentu Anda pernah mengalami – atau setidaknya mendengar – bagaimana akses menuju game sempat terhambat. Akibatnya pun cukup pelik, karena mengganggu keasyikan saat menangkap Pikachu cs, yang pada akhirnya mengurangi pengalaman pengguna.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut, bisa saja terjadi karena kurangnya kapasitas, atau mungkin saja terjadi karena aplikasi dan/atau infrastrukturnya tidak dibangun untuk memiliki skalabilitas dan dapat diubah sesuai kebutuhan.

Kondisi ini mirip dengan istilah 'Build to Fail' yang prominen di kalangan DevOps (development & operations) dan cloud. Premis dari istilah Build to Fail sendiri adalah kesengajaan pengembang dalam menciptakan aplikasi dan infrastruktur yang gagal, untuk kemudian dijadikan pembelajaran demi meminimalisir terjadinya downtime akibat kapasitas hingga kinerja, serta gangguan pada aplikasi dan infrastruktur.

Namun seiring dengan kemajuan teknologi dan didukung dengan kehadiran cloud, tak hanya Build to Fail yang perlu dilakukan Bisnis. Ada keharusan untuk melakukan 'Build to Scale' yang berarti aplikasi dan/atau infrastruktur pendukungnya dibangun agar skalabel dan fleksibel demi kemudahan pengubahsuaian sesuai dengan kebutuhan di masa yang akan datang, dan dalam kasus PokΓ©mon Go, kebutuhan dalam waktu yang singkat.

Akan tetapi untuk membangun aplikasi dan infrastruktur yang Build to Scale, bisnis kini dihadapkan dengan tantangan skalabilitas.

Ada dua penyebab utama dari tantangan skalabilitas, yakni yang berhubungan dengan data source dan infrastruktur. Dimana untuk mengatasi tantangan yang disebabkan data source, perlu dilakukan pemecahan database yang berukuran sangat besar menjadi bagian-bagian kecil yang mudah untuk dikelola.

Teknik ini bahkan telah diadopsi oleh hampir semua perusahaan karena dapat diterapkan pada database, layanan kinerja, dan aplikasi.
Para gamer Pokemon Go.

Sedangkan untuk menanggulangi tantangan skalabilitas akibat infrastruktur, diperlukan berbagai komponen pendukung seperti layanan load balancing, APIs dan script, otomasi, serta orkestrasi. Kesemuanya perlu diterapkan dalam infrastruktur, bahkan sebelum dibutuhkan. Sehingga ketika diperlukan – seperti dalam kasus Pokemon Go – aplikasi dan infrastruktur langsung skalabel sesuai dengan kebutuhan.

Khusus load balancing, layanan tersebut amatlah penting untuk diterapkan di dalam berbagai arsitektur aplikasi. Tak hanya dapat menyediakan layanan load balancing yang diperlukan dalam 'Build to Fail', namun juga mendukung kebutuhan "Build to Scale".

Kesuksesan Pokemon Go dalam waktu yang sangat singkat dapat dijadikan contoh bahwa bisnis perlu mempertimbangkan untuk melakukan Build to Fail dan Build to Scale secara bersamaan.

Sehingga, bisnis dapat terus menghasilkan inovasi yang dapat menangani berbagai tantangan IT, demi meraih kesuksesan yang berkesinambungan. Dan terpenting, dapat terus menyediakan layanan yang terbaik bagi pelanggan kapan saja, di mana saja, dan dari perangkat apa saja.

*) Penulis, Andre Iswanto merupakan Senior Field System Engineer di F5 Networks Indonesia. (ash/ash)
TAGS





Hide Ads